Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Thursday, August 29, 2013

0 comments

THE POWER OF YAKIN

Ada sebuah cerita nyata, yang menarik kita simak berikut ini mengenai bagaimana sebuah keyakinan yang bisa diibaratkan seperti bahan bakar, bisa berpengaruh terhadap sikap dan tindakan yang berbuah hasil yang positif.

Di sebuah sudut Kota Demak, Jawa Tengah, terdapat sebuah pesantren tahfidz qur’an dengan beberapa santri yang sedang menimba ilmu disana. Cuaca pagi itu memang cerah, namun tak demikian halnya dengan kondisi financial para santri. Ya, hari itu merupakan hari yang berat, dimana ketika menginjak akhir bulan para santri dituntut untuk bisa mengelola keuangan mereka dengan baik. Tentu, karena bagi sebagian besar santri yang setiap bulannya masih menerima ‘beasiswa’ kiriman dari orang tuanya, biasanya mereka harus menunggu setiap awal bulan untuk dapat mencairkan ‘beasiswa’ tersebut karena memang orang tua mereka umumnya baru mampu mengirimkannya di setiap awal bulan.

Pagi itu seorang santri terlihat murung ketika melihat sisa uang di dompetnya hanya cukup untuk makan beberapa kali saja. Namun ia pun tak berkecil hati dengan kondisi keuangannya saat itu, karena ia yakin Tuhannya akan mencukupkan rizki bagi hamba-Nya yang taqwa.

Setiba waktu dhuha, selepas selesai setoran hafalan qur’an ke gurunya, santri tadi pun langsung kembali ke kamarnya dan dengan khusyu’ tunaikan dhuha dan bermunajat kepada Sang Khalik agar dimudahkan urusannya dan diluaskan pintu rizkinya.

Tak lama hanya berselang beberapa menit setelah selesai memanjatkan do’a di waktu dhuha, ia mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Ia pun membuka pintu itu dan ternyata telah berdiri dibalik pintu kamarnya putra pengasuh pesantren yang juga masih teman mengajinya mengajak ia untuk menemani sang ayah (pengasuh pesantren) melakukan tasmi’ quran di rumah salah seorang warga masyarakat tidak jauh dari lingkungan pesantrennya. Ia pun tak bisa menolak titah dari gurunya itu dan kemudian bersiap menemani pengasuh pesantren pergi ke rumah warga untuk mendengarkan dan ikut menyimak tahfiz quran 30 juz.

Menjelang ashar tiba, kegiatan tasmi’ quran pun selesai. Tak disangka, ketika bersalaman dengan tuan rumah, sebuah amplop ‘jatuh’ meluncur dari si tuan rumah di saku santri itu. Ia pun tentu tak bisa menolak karena memang biasanya ini merupakan bentuk penghargaan dan rasa terima kasih dari tuan rumah kepada para pengisi acara tersebut.

Dan tanpa disangka, amplop tersebut ternyata berisi uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beberapa hari ke depan.            

Dibalik kejadian itu ternyata santri tadi memiliki rasa yakin yang begitu menghujam dalam hatinya akan janji-Nya. Ia pun tak berputus asa dengan rahmat Allah atas hamba-Nya. Maka dengan kesungguhan do’a diiringi rasa yakinnya itu, Allah pun menurunkan rizki-Nya dari pintu yang tak ia sangka. Ia teringat dengan salah satu janji Allah SWT :
`“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS At-Thalaq :2-3)

Ayat ini secara jelas menerangkan bahwa siapa saja yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rizki dari arah yang tak disangka-sangka. Dan tentunya kata kunci yang harus dipenuhi ketika berharap dan memohon sesuatu kepada-Nya adalah YAKIN. Yakin bahwa janji-Nya adalah benar dan pasti, dan Dia akan memenuhi setiap janji-Nya. Sikap husnudzan ini harus terus tertanam pada diri setiap mukmin sebagaimana Allah  berfirman dalam hadis qudsi yang artinya :
 “Aku selaras dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku” (HR. Bukhari Muslim)
Wallahu a’lam. (Smart Students/MI)
                                                                         

Thursday, August 22, 2013

0 comments

HIDUP INI SINGKAT!


Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia,
BAGAIMANA Anda ingin dikenang?
Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia,
Apa kata-kata terakhir yang ingin Anda dengar dari orang-orang yang mencintai Anda?
Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia, apakah Anda sudah memberikan yang TERBAIK?
Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia, Apa yang Anda tinggalkan?
Apakah Anda layak sukses?
Apakah Anda sudah berusaha yang terbaik?
Apakah Anda membuat orang lain bangga?
Apakah Anda meninggal seperti seorang PEJUANG?....atau PECUNDANG?
Berapa jam sehari Anda mengabdikan waktu Anda untuk bertumbuh?
Berapa jam sehari waktu terbuang percuma?
Semoga masih ada hari esok!

Hidup ini pilihan! Mana yang Anda pilih?
Hidup ini singkat, jadi....
        
(Diambil dari buku “The Power of Kepepet”, Penulis: Jaya Setiabudi)

Tuesday, April 16, 2013

Ujian Nasional? Siap Berhasil, (Harus) Siap Gagal Juga

0 comments

Ujian Nasional atau yang juga dikenal sebagai UN, awalnya diniatkan sebagai alat evaluasi pendidikan di Indonesia. Namun, sudah jadi rahasia umum bahwa UN membawa beban psikologis yang amat besar bagi para guru, orang tua, dan terutama siswa kelas ujung (kelas 6, 9, dan 12). Bagaimana tidak? Proses belajar-mengajar yang ditempuh selama bertahun-tahun, ditentukan hasilnya oleh tes beberapa hari saja.

Untuk mengurangi beban psikologis ini, banyak sekolah yang kemudian mengadakan training motivasi. Seperti pada umumnya training motivasi, biasanya para trainer tersebut akan menanamkan kepercayaan diri yang tinggi pada anak-anak yang akan "bertarung" di medan laga UN. Contoh simulasi yang biasanya diterapkan dalam training tersebut adalah si trainer akan memanggil ke depan seorang peserta, lalu menyediakan sebatang pensil. Si siswa akan diminta mematahkan pensil tersebut ala karate chop, namun dengan satu jari saja. Jika si anak memiliki kepercayaan diri yang tinggi, jumlah gaya, dan posisi jari yang tepat, maka pensil tersebut akan patah!

Yang kemudian patut digarisbawahi adalah jika kepercayaan diri itu kemudian berbalik menjadi bentuk takabur. Maksud penulis dengan takabur di sini adalah, pada sebagian orang, ketika mereka siap untuk berhasil, mereka juga lupa bahwa di saat yang sama mereka punya risiko gagal pula. Ini bukan masalah pro dan kontra terhadap training motivasi, tidak seperti itu. Penulis sendiri punya tim yang memang salah satu bidang kerjanya adalah training motivasi. Ini adalah perkara realistis. Karena dalam lingkup apapun, selalu ada peluang gagal. Kalau tidak karena kelalaian kita sendiri, bisa jadi ada faktor-faktor di luar kehendak dan kuasa kita. Sewaktu hendak menempuh UN dahulu, penulis pernah dinasihati--meskipun dengan nada seolah bercanda--oleh salah seorang guru penulis mengenai hal ini, "Mana kita tahu kan... Bisa saja setelah kita kumpulkan kemudian LJK (Lembar Jawaban Komputer) kita tanpa sengaja ketumpahan kopi di ruang guru? Hehehe..."

Maka, siapkanlah ruang hati kita untuk menerima kegagalan. Syukur-syukur kegagalan itu memang tak harus kita alami. Penulis tidak mengajak para pembaca artikel ini untuk kemudian menjadi pesimis, bukan itu. Ini kenyataannya. Bicara mengenai kegagalan, Anda bisa menjelajah internet tentang kegagalan-kegagalan apa yang harus ditempuh seorang Abraham Lincoln (bukan Abraham Samad lho ya...) sebelum menjadi presiden Amerika Serikat. Rumus siap gagal ini pun dipahami dalam-dalam oleh orang-orang tersukses di dunia ini, salah satunya mendiang Steve Jobs. Siap gagal ini bukan berarti kemudian pasrah tanpa belajar dan usaha, sesungguhnya bukan seperti itu maksud penulis.


Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)


Kalau gagal, jangan berandai-andai. Yakinlah ada kebaikan yang disimpan Allah untuk kita nikmati kelak. Dengan cara, dan di waktu yang lebih baik, Insya Allah. [AP/SmartStudents]



Saturday, March 30, 2013

Menyalahkan yang (Memang) Salah

0 comments

Sepekan lalu, dalam perjalanan pulang dari Sumedang, di samping mobil yang saya tumpangi bersama kawan-kawan saya melintaslah seorang pria berambut panjang dicat dengan bahasa tubuh kemayu. Ia adalah tipikal orang yang sehari-hari kita sebut sebagai bencong alias banci. Melihat hal itu, seorang kawan saya berkomentar spontan,

"Wah, ada mas-mas salon!"

Saya yang mendengar celetukannya, merasa heran dengan istilah yang ia lontarkan dan lalu spontan juga berkomentar kepadanya,

"Baru denger tuh istilah mas-mas salon, hehehe...."

Kawan saya lalu menjelaskan panjang lebar, sejauh yang ia pahami ketika kita berinteraksi dengan orang-orang yang melenceng dari fitrahnya macam itu dan juga berbicara tentang mereka kita harus tetap meletakkan persoalan pada tempatnya. Banci biar bagaimanapun tetaplah lelaki yang memaksakan diri berpakaian layaknya wanita. Lesbian pun, entah bagaimana maskulinnya tetaplah wanita yang kehilangan kodratnya. That's the plain truth. Jadi misalnya, kalau ada banci mengamen di depan rumah kita, tetaplah membahasakan diri mereka sebagai "Mas", bukan "Mbak". Sebab secara tidak langsung, ketika kita menggunakan kata sapaan "Mbak" untuk mereka, berarti kita telah memberikan toleransi atas pelanggaran mereka terhadap hukum Allah.


Dalam hadits marfu’ riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma disebutkan,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”( Hadits riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 10/332.)

Dalam hadits lain Ibnu Abbas juga meriwayatkan,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الْمُتَخَنِّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki”( Hadts riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 10/33333)

Selanjutnya, kawan saya itu menjelaskan dengan mengambil contoh kasus isteri Nabi Luth. Sesungguhnya isteri beliau tidaklah termasuk golongan penyuka sesama jenis, namun ia (si isteri) menoleransi dan ridha atas kerusakan yang dilakukan kaumnya. Ketika para malaikat utusan Allah datang ke rumah Nabi Luth dalam wujud pemuda-pemuda tampan, sang suami dengan sekuat tenaga merahasiakannya, karena khawatir akan gangguan para homoseksual tersebut kepada tamu-tamunya. Tiada yang tahu kecuali sang nabi dan keluarganya. Sang isteri malah membocorkan hal itu pada para tetangganya yang durhaka, “Sesungguhnya di rumah Luth ada beberapa anak muda tampan, yang tidak pernah aku lihat orang yang wajahnya setampan mereka.”

Seperti yang kita sudah sama-sama tahu, sang isteri kemudian termasuk dari orang-orang yang diadzab dan dibinasakan Allah. Bukan karena ia pelaku maksiat, tapi karena ia membiarkan dan bertoleransi terhadapnya. Dahsyat bukan?

Pelajarannya yang saya dapat sore itu amat jelas. Ketika sesuatu salah, bilanglah bahwa ia salah. Tak usah ragu hanya karena manusia. Kalau ada yang bilang,

 "Apa hak kita menghakimi mereka ? Tuhan yang bisa menentukan manusia itu salah atau nggak, bukan lu!"

Maka jawablah, seperti ini, dengan tentunya menunjukkan dalilnya dari Al-Qur'an dan Sunnah:

"Tuhan sendiri dan nabi-Nya yang bilang kalau itu salah. Ini buktinya. Lihat sendiri. Kalau elu siapa, kok bilang mereka gak salah, padahal Allah dan rasul-Nya saja bilang salah?"

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tibaa'ah, wa arinal-baatila baatilan warzuqnaj-tinaabah. 

Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang baik itu baik, dan anugerahi kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang salah itu salah, dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya. [AP/SmartStudents]

Tuesday, February 12, 2013

"Rudy Habibie dan Rudy Chaerudin, Sukses Mana?"

0 comments



Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk ke jurusan Bahasa.

Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling tinggi justru ke jurusan Bahasa.

Sewaktu saya diskusi dengan (mendiang) Romo Mangun Wijaya tentang kurikulum sekolah, beliau mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih mewarisi "budaya" kolonial Belanda.

Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya diarahkan
untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang akan lahir ekonom, hakim, jaksa,
pengacara, polisi, diplomat, duta besar, politisi dsb yang hebat2.
Tetapi rupanya hal itu tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial politik.Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli komputer, ahli matematika, dokter, dsb yang asyik dengan sains di laboratorium (pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa).

Saya nggak tahu persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi patah semangat karena kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah.

Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin parlemen, kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P & K atau tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai saat ini,masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol.Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep anak tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja mengadakan seminar anak-anak.

Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.
- Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat dan bisa menjadi presiden.
- Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa kali menjadi juara bulu tangkis kelas dunia.
- Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
- Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan dan punya banyak salon kecantikan di beberapa kota.
- Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu acara memasak di TV.

Sewaktu Kak Seto bertanya "Rudy yang mana yang paling sukses menurut kalian?" Hampir semua anak menjawab "Rudy Habibie" Sewaktu ditanyakan
"Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?"

Anak-anakpun menjawab "Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi presiden, dsb" Sewaktu Kak Seto menanyakan "Rudy yang mana yang paling tidak sukses?" Hampir seluruh anak menjawab "Rudy Choirudin" Ketika ditanyakan "Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang yang sukses?"

Anak-anakpun menjawab "Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak"

Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan "enjoy".

Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya.Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan. Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir anak-anak (dan juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.

Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai kesuksesan
di "bidangnya". Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, anak2 tidak perlu
minder dan orang tua tidak perlu malu atau menekan anak.Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar daripada pelajaran-pelajaran lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru anak-anak yang punya imajinasi tinggilah yang pintar menggambar/ melukis. Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi politisi atau negotiator yang baik.

Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat. Mbak Dwi Setyani juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada kekuatan kita dari pada "wasting time" bersungut-sungut, hanya memikirkan kelemahan kita.

Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika. Penyanyi tersebut dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya supaya giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa menghasilkan suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang tonggos itu bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi dengan bebas dan meng-eksplore suara emasnya.Ternyata orang-orang mengingat penyanyi itu karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.

Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia) dengan maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.

SUMBER


Monday, January 21, 2013

"Kalo orang lain, mungkin nggak bakal mampu..."

0 comments

Sahabat-sahabat Smart Students yang baik hatinya, saya yakin Anda semua pernah menonton sinetron "Kiamat Sudah Dekat". Sinetron adaptasi sinema layar lebar ini merupakan salah satu masterpiece Pak Haji Deddy Mizwar yang hingga kini masih terkenang oleh saya pribadi. Kisah ini secara garis besar bicara tentang Fandy, seorang rocker, dalam perjuangannya menyunting Sarah, gadis cantik nan shalihah puteri Pak Haji Romli yang teguh memegang idealisme keislaman beliau.

Selain ketiga tokoh utama di atas, ada dua tokoh pendukung anak-anak yang cukup menarik perhatian, Kipli dan Saprol. Saprol, seorang anak yatim yang bercita-cita mengikuti jejak Fandy sebagai rocker dan mengajarinya membaca Qur'an serta mendirikan shalat. Sedang Kipli adalah kawan karib Saprol yang ingin jadi anak yatim.

Ada satu dialog antara dua kawan karib ini yang begitu singkat, namun sarat makna dan menyentuh. Saya lupa bagaimana dialog persisnya, tapi kira-kira begini:
"Gue bingung banget, Prol, kenapa Allah ngasih gua hidup kayak begini. Ibu gue ninggalin gue sejak masih bayi, terus Bapak gue begitu banget. Pemabuk, suka mukulin gue, suka main judi."
Dengan bijak, dan kedewasaan yang melampaui usianya, Saprol menjawab kegundahan hati sahabat dekatnya itu:
"Pli, ibu gue pernah nasehatin gue begini, 'Kalo kita dikasih masalah yang banyak sama Allah, itu tandanya Allah ngerasa bahwa kita kuat dan mampu nyelesein itu semua. Kalo orang lain, mungkin nggak bakal mampu..."

Saya rasa Anda semua sudah dapat menangkap jelas pesan Saprol. Allah tidak memberikan masalah pada kita, kecuali dalam batas kemampuan kita. Kalau kita mengeluh sesekali, wajar. Memang itu sudah jadi tabiat dasar. Dan batas kemampuan ternyata adalah hal yang berbeda dengan batas kemauan. Wallahu a'lam bisshawab. [AP/SmartStudents]

Tuesday, January 15, 2013

Hanya 1,5 Jam Hidup Kita di Dunia

0 comments


Hidup di dunia sangatlah singkat. Waktu berjalan begitu cepatnya. Perhatikan keluarga, sahabat, dan orang- orang terdekat kita. Betapa tuanya mereka sekarang ini, bahkan di antara mereka sudah ada yang meninggalkan dunia. Padahal, kemarin mereka masih terlihat begitu sehat dan gagah.

Allah bertanya, ‘Berapa tahun lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari saja, maka tanyakanlah kepada orang- orang yang menghitung’. Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau saja kamu tahu yang sebenarnya’. Apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?’. (Q.S Al-Mu’minun/23: 112-115)

Usia rata-rata manusia selama hidup di dunia adalah 63 tahun (sama seperti usia Rasululloh SAW). Padahal….
1 hari di akhirat = 1000 tahun dunia (QS As Sajdah : 5).
24 jam akhirat   = 1000 tahun dunia
1 jam akhirat    = 42 tahun dunia

Nah, bila seseorang memiliki usia 63 tahun, kira- kira orang tersebut hanya memiliki 1,5 jam saja (bila diukur dengan waktu akhirat). Tidak heran...  Kita selalu diingatkan masalah waktu, seperti yang tercantum dalam Quran Surat Al-‘Ashr: 1-3. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat- menasihati supaya menaati kebenaran dan menetapi kesabaran".

Bayangkan… hanya 1,5 jam di Dunia, jika dibandingkan dengan kehidupan Akhirat yang kekal. Jangankan untuk bisa sampai ke Surga/ Neraka, untuk meniti panjanganya ‘Jembatan Shiratal Mustaqim’ saja membutuhkan waktu 1/2 tahun akhirat (500 tahun di dunia).
Suatu Jembatan akhirat yang sangat tipis, bagaikan sehelai rambut yang dibagi menjadi 7 bagian, tajam, sempit, dan terbentang diantara 2 punggung neraka Jahannam, yang diatasnya terdapat besi- besi panas yang saling berkaitan dan menyambar.

Masih ada rangkaian perjalanan panjang yang akan kita lalui kelak, hidup dunia hanya sebentar…. Amat disayangkan jika kita hanya menjalaninya, tanpa melakukan banyak hal yang berarti. mari berlomba- lomba dalam kebaikan (Fastabiqul khoiroh) dan saling nasehat- menasehati dengan kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. Dan dengan ridho dari Allah, semoga pintu surga terbuka untuk kita….

------------
Saat kita sedang berjaya, ingatlah bahwa kejayaan itu akan segera sirna. Saat  kita sedang menikmati kekayaan berlimpah, ingatlah bahwa besok semuanya akan kita tinggalkan. Semua yang ada di bumi tidak akan abadi. Yang abadi hanyalah wajah Tuhanmu yang memiliki Kebesaran & Kemuliaan. (Q.S. Ar-Rahman: 26-27)

Wednesday, December 12, 2012

Terus Jokowi Harus Ganti Nama Jadi Jokowow, Gitu?

0 comments

Beberapa hari yang lalu, ketika saya berangkat naik motor ke kantor LPP Smart Students di daerah Rempoa, saya mendapati ada seorang bapak, paruh baya, yang berboncengan motor dengan isterinya. Saya tak sengaja melihat beliau berdua di daerah arteri Pondok Indah, Jakata, setelah keluar dari underpass. Bapak tersebut boleh dibilang pengendara yang agresif. Sambil mengarahkan motornya ke arah kanan, beliau menyalakan lampu sein dan berulang kali mengklakson kendaraan yang ada di belakangnya. Termasuk saya. Masya Allah, ternyata beliau mau masuk ke jalur busway. Setelah masuk, motor bebek itu dipacu dengan kecepatan lumayan, dan saya tidak melihat mereka berdua lagi.

Setelah peristiwa itu saya, entah mengapa, teringat gubernur DKI yang baru saja terpilih, Ir. Joko Widodo atau yang lebih populer disebut Jokowi. Saya juga kemudian teringat gubernur sebelumnya, Dr. Fauzi Bowo yang lulusan Jerman itu. Saya merasa menemukan salah satu sebab Jakarta tetap macet meskipun sudah berulangkali berganti pemimpin. Bahkan yang lulusan luar negeri tersebut.

Ternyata, kita (termasuk saya) sebagai rakyat punya kecenderungan yang aneh. Ketika ada sesuatu yang membuat kita tidak puas, (dalam konteks ini kemacetan Jakarta) kita cenderung menyalahkan pemerintah yang bertugas. Padahal ternyata tanpa kita sadari, kita punya andil dalam masalah itu. Kita melestarikan masalah itu di alam bawah sadar kita, sementara alam sadar kita memaki-makinya. Kita mengeluh semrawutnya lalu lintas Jakarta, namun di saat yang sama kita menerobos lampu merah, menyerobot jalur busway, mengendarai motor di trotoar, dll. Dengan kata lain, kita hanya mengutuk kegelapan, tapi tak melakukan apa-apa untuk menerangi. Bukankah menyalakan sebatang lilin masih lebih baik? Redupnya cahaya lilin masih lebih baik daripada gelap total kan?

Kemudian, kita sebagai rakyat juga seringkali mengharapkan solusi yang instan dan menyeluruh, ibarat panacea. Panacea adalah nama obat dalam legenda Yunani kuno yang dikisahkan mampu mengobati segala macam penyakit. Di-glek, semua gejala sembuh. Sekitar sebulan yang lalu ada teman yang berbagi status di Facebook, bercerita tentang temannya yang mengeluhkan Jakarta yang masih macet dan banjir padahal Jokowi sudah jadi gubernur. Kalau boleh jujur, Jokowi yang sempat jadi media darling waktu itu baru bekerja sekitar dua bulan. Tidak adil rasanya menilai kinerja yang harus dikerjakan dalam lima tahun dari dua bulan waktu tertempuh. Semua butuh proses.

Betapa sering, kita menginginkan perubahan, namun lalai mengubah diri kita sendiri. Maka, reaksi otomatis saya terhadap status update kawan saya itu adalah,"Terus Jokowi harus ganti nama jadi Jokowow, gitu?" [AP/SmartStudents]

Friday, November 30, 2012

Belajar Tawakkal dari Pak Nil Maizar

0 comments

Pak Nil Maizar, pelatih timnas sepakbola Indonesia ini sekarang sudah mulai dikenal publik. Apalagi dengan kemenangan 1-0 Indonesia atas Singapura kemarin (29/11/12). Andik Vermansyah menjadi pahlawan skuad  merah putih dalam menundukkan para pemain negeri Singa itu.

Ada cerita unik di balik pertandingan ini, seperti yang diulas Media Indonesia dan diceritakan ulang mas Ridlwan, seorang jurnalis Jawa Pos (@ridlwanjogja) dalam akun Twitter-nya. Sesaat sebelum laga Pak Nil diwawancarai Dan Guen Chin, wartawan asal Singapura, negara yang akan menjadi lawan Indonesia.

"Pak Nil, mengapa Indonesia gagal terus di Piala AFF ?" tanya si wartawan.
"Kemenangan itu butuh proses, jika belum itu karena kehendak Allah." jawab Pak Nil.

Seakan tak puas dengan jawaban Pak Nil, wartawan Singapura itu membalas, "Kesampingkan dulu soal Allah, saya kan bertanya soal pandangan Anda sebagai pelatih."

Pak Nil marah mendengar ucapan si wartawan, "Oh, tidak bisa kesampingkan Allah. Selama ini Indonesia selalu turun dengan pemain bagus, persiapan baik, tapi kalau Allah belum berkehendak untuk Indonesia juara AFF , mau apa?"

Mendengar itu si wartawan Singapura terdiam, sedang Pak Nil masih menyisakan raut kesal kepada si wartawan saat meninggalkan ruang konferensi pers.

Begitulah, kita bisa membuat persiapan terbaik, menggunakan rencana paling matang, meminta bantuan orang-orang hebat, namun hasil lagi-lagi milik Allah. Kalau Allah belum berkehendak, mau apa? Yang sudah berikhtiar maksimal saja masih bisa gagal, apalagi yang tak maksimal... Seperti kata Rasulullah kepada sahabat beliau yang meninggalkan ontanya begitu saja di luar, "Ikatlah dulu ontamu, baru kemudian bertawakkal. " Sebab awalnya sang sahabat berpikir, tak mungkinlah akan hilang, sebab ia sudah bertawakkal kepada Allah atas onta tersebut, jadi tak perlu diikat.

Jadi, sudahkah kita tawakkal dengan cara yang benar? [AP/SmartStudents]


===================================================================
Butuh les privat untuk SD, SMP, dan SMA Nasional dan Internasional di Jakarta dan sekitarnya ? Hubungi kami, LPP Smart Students di 08-777-1313-984 (SMS Center) atau 021 8340-1934 (Call Center)


Friday, November 23, 2012

Seorang Pemuda dan Dua Gelas Air (Catatan Kecil Tentang Rezeki)

0 comments

Suatu ketika seorang pemuda, sebut saja Fulan namanya, memutuskan makan siang setelah shalat zhuhur di kampusnya. Seperti biasa, ia pergi ke warung nasi khas Sunda langganannya dan memesan sepiring nasi beserta lauk pauk dan gorengan, menu khas mahasiswa. Di warung itu, sudah menjadi kebiasaan bahwa para pembeli mengambil air minumnya sendiri dari teko, dan air putih yang mereka ambil tidak dihitung (digratiskan). Seperti biasa, Fulan mengambil segelas air putih sebagai teman makannya, namun ia menunggu sampai selesai makan untuk minum, sebab ia pernah diberitahu kawannya yang ahli pengobatan herbal bahwa menyela proses makan dengan minum air malah tidak sehat. Setelah nasi habis, Fulan teringat dengan tugasnya yang harus ia selesaikan. Dengan terburu-buru, ia meninggalkan warung setelah selesai membayar nasi yang ia makan. Beberapa ratus meter setelah meninggalkan warung, ia merasa tenggorokannya begitu penuh dan seret. Barulah ia sadar, ia meninggalkan gelasnya masih dalam keadaan penuh. Ia belum minum setetes pun.

Cerita berlanjut ke tiga hari kemudian, Fulan sedang berada di atas motornya. Di siang hari yang panas, ia ingin menghilangkan hausnya dengan membeli segelas air mineral dingin. Nyesss... begitu nikmat rasanya ketika tetes demi tetes air dingin tersebut membasahi kerongkongannya. Belum habis ia minum, ada SMS masuk di ponselnya. Ternyata ia diminta mengantarkan buku milik temannya yang ia pinjam kepada yang punya. Buku yang sangat penting, karena akan dipakai dalam jangka waktu sekitar setengah jam lagi, sedang si pemilik berkas berada di lokasi yang cukup jauh. Haus masih terasa, tapi Fulan tahu, ada amanah yang masih harus dilaksanakan. Merasa sayang membuang air minum yang ia beli, ia menaruh begitu saja gelas plastik berisi air itu di leher motor bebeknya. Kebetulan motor Fulan adalah motor bebek 110 cc yang memakai transmisi, dalam artian bukan motor matic. Di motor matic biasanya ada tempat khusus untuk menaruh gelas atau botol air minum, tapi tidak di motor milik Fulan. Lalu, ia langsung menyalakan motornya untuk mengantarkan buku tersebut pada kawannya. Beberapa belas kilometer kemudian, setelah berhenti, Fulan kaget karena gelas air yang ia taruh sekenanya di leher motor bebeknya ternyata masih ada, dan airnya pun masih ada sekitar separuh. Memang ia tak pernah mengebut hingga menembus angka kecepatan fantastis, tapi tetap saja ia takjub akan gelas plastik itu. Lalu, ia habiskan sisa airnya dan membuang gelas plastiknya ke tempat sampah.

Sahabatku yang baik, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Fulan? Ya, bahwa rezeki itu sepenuhnya urusan Allah, bukan manusia. Di gelas air yang pertama (di warung nasi) sungguhpun gelas itu ada di depan matanya, dalam jangkauan tangannya, namun karena Allah berkehendak segelas air itu bukan bagian rezeki-Nya kepada Fulan hari itu, maka tak masuk air itu ke kerongkongannya. Di gelas kedua, Allah tetapkan rezeki itu bagi Fulan, sehingga jadilah air itu ia minum, sungguhpun ia sendiri tak yakin. Seperti yang pernah dicontohkan Imam Hasan al-Bashri, beliau berkata, "Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain. Karena itulah qalbuku selalu tenang. Aku tahu amal perbuatanku tidak akan dapat ditunaikan orang lain. Karena itulah aku sibuk mengerjakannya. Aku tahu Allah selalu mengawasiku, karena itulah aku selalu merasa malu bila Dia melihatku dalam keadaan maksiat. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah Azza wa Jalla."

Sahabat, mari kita berhenti khawatir bahwa kita tak punya rezeki. Sesungguhnya Rabb yang menciptakan kita tak mungkin meninggalkan kita begitu saja. Karena Ia Mahabenar dan Maha Menepati Janji. [AP/SmartStudents]


===================================================================
Butuh les privat untuk SD, SMP, dan SMA Nasional dan Internasional di Jakarta dan sekitarnya ? Hubungi kami, LPP Smart Students di 08-777-1313-984 (SMS Center) atau 021 8340-1934 (Call Center)

Wednesday, November 21, 2012

Hujan-Hujan Gini Enaknya Ngapain Ya? Berdoa Aja Yuk...

0 comments

Beberapa pekan ini, Jakarta dan sekitarnya terus menerus diguyur hujan. Berliter-liter air turun, kadang dengan deras dan ganas... Tapi kadang juga dengan rintik nan cantik. Tiada hari tanpa mendung.

Sikap orang berbeda-beda ketika menghadapi hujan yang turun. Ada yang sebal, karena hujan di Jakarta hampir identik dengan banjir dan macet, belum lagi udara yang lebih dingin dari biasanya, meningkatkan resiko sakit. Ada juga yang senang, karena hujan berarti rezeki lebih untuk anak dan isteri. Coba tanya saja ke pedagang susu jahe, pemilik warung mie instan, atau ojek payung.

Aktivitas yang dipilih orang sembari menunggu hujan turun juga bervariasi. Ada yang kirim SMS dan tanya kabar suami, isteri, atau orang tua. Ada juga yang asyik berselancar lewat hape di dunia maya dan ngobrol-ngobrol di social media. Tak sedikit pula yang menyeruput minuman hangat lagi nikmat untuk sedikit mengusir penat.

Ada satu peluang aktivitas kebaikan yang sering kita lupakan di kala hujan. Apa itu? Berdoa. Ya, betul sahabatku, berdoa.
ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر
Di hadits ini, yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, Rasulullah SAW menyebut bahwa ada dua momen di mana doa tidak tertolak, yaitu di antara adzan dan iqamah, serta ketika hujan turun. Kalau Rasulullah yang berbicara, masak kita sebagai muslim tak percaya? Eh iya, apa kabar hajat-hajat dan keinginan kita ? Sudah disampaikan pada Allah? Mumpung hujannya masih menetes nih... Yuk angkat tangan dan berdoa :) [AP/SmartStudents]

===================================================================
Butuh les privat untuk SD, SMP, dan SMA Nasional dan Internasional di Jakarta dan sekitarnya ? Hubungi kami, LPP Smart Students di 08-777-1313-984 (SMS Center) atau 021 8340-1934 (Call Center)

Friday, November 9, 2012

Pemuda Indonesia Dulu dan Kini...

0 comments

Pemuda zaman dulu kalau ngumpul, aktif bikin organisasi, macam Jong Java, Jong Ambon, hingga SDI.
Pemuda zaman kini kalau ngumpul, nyanyi-nyanyi genjrang-genjreng sampe pagi.

Pemuda zaman dulu habis maghrib membuat merdu rumah dengan ayat suci.
Pemuda zaman kini habis maghrib duduk manis depan televisi.

Pemuda zaman dulu minumnya cendol, bandrek, sekuteng, dan bajigur.
Pemuda zaman kini bangga minum benda haram macam bir dan anggur.

Pemuda zaman dulu berani mati lawan kumpeni.
Pemuda zaman kini berani mati lawan saudara sendiri.

Pemuda zaman dulu jatuh cinta cuma lirik-lirikan dan senyum-senyuman.
Pemuda zaman kini atas nama cinta berduaan di pojokan.

Pemuda zaman dulu akrab dengan budaya sendiri.
Pemuda zaman kini baru tahu angklung dan reog setelah mau dicuri.

Pemuda zaman dulu serius, Demi Allah!
Pemuda zaman kini, ciyus? Miapah?

[AP/SmartStudents]


===================================================================
Butuh les privat untuk SD, SMP, dan SMA Nasional dan Internasional di Jakarta dan sekitarnya ? Hubungi kami, LPP Smart Students di 08-777-1313-984 (SMS Center) atau 021 8340-1934 (Call Center)

Thursday, November 8, 2012

Ketika Ada Tangan Tertadah

0 comments

Suatu ketika, di sebuah acara kajian keislaman yang diadakan oleh UKM dakwah di kampus saya dulu, ada sebuah nasihat unik yang kami dapatkan dari narasumber waktu itu. Saya tidak bisa lupa nasihat tersebut, bahkan ketika saya sudah lupa nama si pembicara. Topik saat itu adalah soal sedekah. Beginilah nasihatnya:

"Akhi (saudaraku), ketika Allah mengirimkan seseorang yang menadahkan tangannya kepada antum (Anda), itu berarti Allah mempercayakan antum untuk memberikan sedekah pada orang tersebut, Allah tahu bahwa antum punya kemampuan untuk memberi walaupun hanya seribu rupiah."

Nasihat sederhana, namun penuh makna. Tak usah menunggu punya uang berjuta-juta, kalau mau bersedekah. Yang punya  uang berjuta-juta pun sama, tak usah mengurungkan niat bersedekah hanya lantaran "tak punya uang kecil." Uang besar juga boleh kok, tak ada yang larang :) Terlepas dari adanya pengemis-pengemis gadungan yang memanfaatkan kebaikan hati orang lain dengan cara curang, atau yang bersandar hidupnya dengan merendahkan diri sendiri di hadapan manusia, itu urusan mereka dan Allah. Bukan rahasia lagi kalau ada orang-orang yang menjadikan mengemis sebagai profesi dan dengan penghasilan hingga tiga kali lipat gaji orang kantoran. Sekali lagi, itu urusan mereka dengan Allah. Kita yang sudah tahu bahwa tidak halal bagi seorang muslim meminta-minta ketika ia mampu bekerja, ya sudah, jangan ikuti langkah mereka. Saya sendiri masih terus berusaha mengikuti nasihat ini. Kecuali orang-orang yang memang terlihat terlalu makmur untuk ukuran pengemis atau memang ketika saya tak bawa uang sama sekali, pengemis yang meminta pada saya sebisa mungkin saya beri, insya Allah.

Nah sahabat, ada berapa tangan yang menadah pada Anda hari ini? [AP/SmartStudents]


===================================================================
Butuh les privat untuk SD, SMP, dan SMA Nasional dan Internasional di Jakarta dan sekitarnya ? Hubungi kami, LPP Smart Students di 08-777-1313-984 (SMS Center) atau 021 8340-1934 (Call Center)



Wednesday, October 31, 2012

Filosofi Telur Ceplok

0 comments

Sahabat pasti tahu telur ceplok kan? Masakan ini termasuk yang paling simpel dan paling mudah dibuat. . Tapi tahukah sahabat? Dari telur mata sapi kita bisa ambil pelajaran bagi kehidupan kita sehari-hari.

Yang pertama, ketika kita mau masak telur ceplok, kita harus menyiapkan segala bahan dan alat yang diperlukan. Sebutir telur, sejumput garam, minyak sayur atau margarin, penggorengan, spatula, piring, dan kompor. Pastikan semua dalam keadaan baik dan siap dipergunakan.

Kedua, kita harus mengikuti langkah-langkah dalam memasak telur ceplok. Taruh penggorengan di atas kompor, nyalakan apinya. Jangan lupa memberi sesendok minyak sayur atau margarin. Setelah itu, pecahkan telur di atas penggorengan. Bumbui dengan garam. Tunggu hingga telur matang sambil menjaga supaya tak gosong dengan spatula.

Ketiga, jika sudah matang, sajikan. Anda bisa menikmati telur ceplok hasil masakan Anda. Mau pakai saus cabai botolan boleh, diberi sambal kecap boleh, atau boleh juga jadi teman makan nasi. Terserah Anda.

Keempat, jangan lupa. Setelah telur dinikmati, masih ada piring, penggorengan, dan spatula yang harus dibersihkan. Cucilah sampai bersih, lap bila perlu. Taruh kembali dalam rak piring bila sudah selesai.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari memasak telur ceplok?

Pertama, setiap hal butuh proses. Bahkan untuk hal sederhana seperti telur ceplok sekalipun. Tentu kita tak pantas berharap Allah menurunkan hujan telur ceplok dari langit bukan? Kita tetap harus berikhtiar atas segala sesuatu. Kedua, kita harus mempersiapkan sebaik-baiknya segala kegiatan dan aktivitas kita, baik secara fisik dan mental. Ketiga, ikuti alurnya. Nikmatilah proses-proses dalam hidup kita. Keempat, jika usaha kita sudah maksimal, dan Allah berkenan memberikan hasil, nikmatilah sebaik-baiknya, dan jangan lupa bersyukur. Terakhir, setelah kita menikmati hasil perjuangan kita, lihat kembali, adakah konsekuensi-konsekuensi yang harus kita tanggung dan bereskan pasca proses selesai? Selesaikanlah. Cucilah piringmu. Tak perlu suruh pembantu, tunggu dicucikan ibu atau meminta dicucikan anak mertuamu.

Nah, sahabat... Ada yang mau telur ceplok? [SmartStudents/AP]

Catatan Admin: Artikel di atas disarikan dari salah satu artikel di buku Menata Hidup Merencanakan Masa Depan karya Ibu Marwah Daud Ibrahim, Ph.D


===================================================================
Butuh les privat untuk SD, SMP, dan SMA Nasional dan Internasional di Jakarta dan sekitarnya ? Hubungi kami, LPP Smart Students di 08-777-1313-984 (SMS Center) atau 021 8340-1934 (Call Center)

Sunday, October 28, 2012

Little by Little...

0 comments

...turning sadness into kindness
your uniqueness into strength
if it's you, you can surely do it, believe
once again, once again
once again, once again...
("Little by Little" | English Translation)

Lagu di atas adalah OST dari sebuah anime yang sangat terkenal, Naruto. Anime ini bercerita tentang Uzumaki Naruto, seorang remaja asal desa ninja Konoha, yang memiliki satu mimpi besar: MENJADI HOKAGE (Pimpinan Ninja Konoha). Naruto adalah seorang anak yatim piatu yang hidup sebatang kara. Sejauh yang ia tahu, ayahnya meninggal saat menaklukkan siluman rubah ekor sembilan yang meneror desanya. Naruto awalnya dijauhi oleh para warga desa, karena siluman rubah ekor sembilan itu ternyata disegel dalam tubuhnya. Selain itu, Naruto terlihat seperti tak punya keahlian sama sekali, ia terus menerus gagal dalam ujian, sungguhpun ia telah berusaha keras. Ia meluangkan waktu setelah kelas selesai untuk berlatih lebih keras dari orang lain. Terus, terus, dan terus...

Kita semua, (saya dan Anda) tentu punya sebuah atau bahkan ratusan mimpi-mimpi besar. Seringkali mimpi besar itu terlihat jauuuh sekali. Seolah, sekeras apapun kita berusaha, sepertinya mustahil untuk merubah keadaan. Sepertinya malah lebih mudah untuk menyerah, dan kemudian berbalik arah.

Mari belajar dari Naruto. Remaja ceria nan pemberani ini tetap setia pada impiannya. Sedikit demi sedikit ia bertambah kuat. Adakalanya orang menertawakan, merendahkan, dan menghinanya. Tapi ia terus maju. Seperti kata band Nidji, "...Aku menjadi diri sendiri, tak peduli apa kata dunia..."

Little by little. Sedikit demi sedikit mari kita perbaiki diri. Sebesar apapun mimpi kita, mulai dari perbaiki yang kecil-kecil dulu. Sebab kita pun harus makan sesuap demi sesuap. Jika tidak, tersedaklah kita. Sebab kita pun harus berjalan selangkah demi selangkah. Jika langsung berlari kita akan terlalu cepat lelah, dan malah mungkin kehilangan semangat melanjutkan perjalanan.

Jadi, perbaikan kecil apa yang sudah kita buat hari ini? [SmartStudents/AP]

===================================================================
Butuh les privat untuk SD, SMP, dan SMA Nasional dan Internasional di Jakarta dan sekitarnya ? Hubungi kami, LPP Smart Students di 08-777-1313-984 (SMS Center) atau 021 8340-1934 (Call Center)

Wednesday, October 24, 2012

Garbage In, Garbage Out

0 comments


Sahabat yang berkecimpung atau memiliki ketertarikan di bidang pemrograman komputer, pasti sudah pernah mendengar istilah GIGO atau Garbage In, Garbage Out. Istilah ini merujuk pada perilaku komputer yang akan memberikan output sesuai input yang diberikan pengguna. Jika inputnya benar, maka outputnya pun benar. Sebaliknya, jika input yang diberikan ngaco, hasil yang diberikan komputer pun akan ngaco.

Dalam hidup, kita pun sebetulnya punya pilihan. Tentang masukan-masukan apa yang kita berikan pada diri kita, baik secara fisik maupun mental-spiritual. Asupan fisik mencakup makanan dan minuman apa saja yang kita konsumsi. Sudah halal dan baikkah? Halal dari zatnya dan cara mendapatkannya? Kandungan gizinya apakah sudah seimbang dan cukup? Input terhadap keadaan fisik juga termasuk olahraga secara teratur dan seimbang. Jika input terhadap keadaan fisik ini baik, insya Allah kesehatan kita akan selalu prima. Khusus mengenai daging yang tumbuh dari rezeki haram, Allah dan RasulNya memperingatkan bahwa tempat yang paling pantas baginya adalah neraka. Selain itu, halal haramnya makanan juga akan berpengaruh pada perilaku kita. Seperti kata pepatah. You are what you eat. Makanan dan minuman haram akan memicu orang yang mengonsumsinya untuk melakukan perbuatan haram pula. Jadi, jangan heran jika ada anak koruptor yang ketika dewasa mengikuti jejak ayahnya.

Kita juga patut mengevaluasi lagi, sudahkah input bagi keadaan mental-spiritual kita adalah hal-hal yang baik? Apa yang kita lihat, dengar, dan baca? Siapakah yang sering kita simak perkataannya? Seringkah kita mengkaji Qur’an dan Sunnah? Siapakah yang kita follow di Twitter dan jadikan teman di Facebook? Apa yang biasanya kita tonton dan dengarkan? Terlepas dari silang pendapat mengenai halal haramnya musik di kalangan ulama, salah satu hal yang membedakan generasi kita dengan generasi para pendahulu kita macam Soekarno, Hatta, dan Sjahrir, adalah mereka tidak mendengarkan musik-musik penggalauan nan alay seperti yang banyak dilakukan pemuda Indonesia masa kini. Pak Harto ketika masa pemerintahannya pun sempat menunjukkan ketidaksenangannya terhadap lagu-lagu era 1980-an yang cenderung terkesan cengeng dan bercerita tentang patah hati yang berlarut-larut dan berlarat-larat. Beliau khawatir hal tersebut akan membentuk mental pemuda Indonesia yang lemah.

Jadi, input apa yang akan kita ambil hari ini? [SmartStudents/AP]


===================================================================
Butuh les privat untuk SD, SMP, dan SMA Nasional dan Internasional di Jakarta dan sekitarnya ? Hubungi kami, LPP Smart Students di 08-777-1313-984 (SMS Center) atau 021 8340-1934 (Call Center)

Monday, October 22, 2012

Ekspektasi dan Kesungguhan Ikhtiar Kita

0 comments

Sahabat, dalam hidup, ada kalanya orang-orang di sekitar kita, entah orangtua, anak, isteri, sahabat, atau yang lainnya memiliki harapan yang besar pada diri kita. Contoh, "Nak, kamu nanti kalau sudah besar jadi dokter ya, biar Mama dan Papa bangga sama kamu." Atau, "Bi, Abi... si Jundi butuh uang pangkal buat masuk SMP. Sekarang dia sudah kelas 6. Beberapa bulan lagi, dia sudah lulus SD." Contoh yang lain pasti sahabat pembaca sudah tahu, dan bahkan mengalami sendiri. Orang-orang yang kita cintai, menaruh harapannya pada kita, sebagaimana mungkin sebaliknya kita juga menaruh harapan-harapan besar pada mereka.

Ada kalanya, ekspektasi-ekspektasi tersebut menjadi pelecut semangat kita. Sebab kita sadar, bukan hanya impian kita yang sedang kita perjuangkan hari ini, tapi juga mimpi-mimpi dari orang-orang yang kita cintai dan juga mencintai kita. Namun ada kalanya, ekspektasi besar mereka malah menjadi beban bagi kita. Sungguhpun kita sadar, sepenuh-penuhnya, bahwa cinta adalah kata kerja dan tak hanya berhenti menjadi sebuah kata benda.

Sahabat, hidup pada intinya bukanlah tentang bagaimana kita memenuhi ekspektasi-ekspektasi orang lain tentang kita. Sebab bukan untuk itu kita diciptakan. Hidup juga bukan tentang kita menggantungkan harapan-harapan pada orang lain. Mereka yang menghabiskan waktu mengkhawatirkan persepsi orang lain dan berharap pada makhluk akan mati dalam keadaan sakit hati. Sebab, bagaimanapun kita adalah manusia biasa yang punya aneka kekurangan. Ya, saya, dan juga Anda. Kita harus sadar, bahwa kekuasaan Allah jauh melampaui ikhtiar manusiawi kita. Dan Dia berbuat apa yang Dia kehendaki.

Lantas, apakah kita harus menghentikan usaha-usaha kita hari ini? Tidak, tidak seperti itu. Hanya saja kita harus sadar. Bahwa kita melakukan dan memberikan apa-apa yang terbaik dari diri kita bukan lantaran manusia, bukan lantaran orang-orang terkasih kita mengharapkan kita berlaku begitu. Kalau ingin memberi ikhtiar 100%, berikanlah 100%, karena berikhtiar sebaik mungkin sebetulnya bagian dari ihsan. Kita berlaku yang terbaik karena mengharap keridhaan Allah. Biarlah Allah yang menilai. Karena seringkali manusia hanya bisa menilai dari hasil yang bisa mereka lihat. Kalaulah ikhtiar hanya dilihat dari hasil, bukankah Nabi Nuh a.s. bisa dibilang tak berhasil secara statistik? Setelah berdakwah 950 tahun, pengikut beliau hanya segelintir.Namun, Allah malah menggelari beliau sebagai salah satu 'Ulul Azmi. Itulah Mahateliti Allah dalam memberi balasan.

Tak menggantungkan harapan pada manusia, juga akan mencegah kita dari patah hati ketika harapan-harapan itu tak terwujud. Entah karena keterbatasan manusiawi mereka, yang tadi sudah kita bicarakan, atau   lainnya. Sahabat, mulai saat ini.... Jadikan keridhaan Allah benchmark bagi segala yang kita lakukan. [SmartStudents/AP]

===================================================================
Butuh les privat untuk SD, SMP, dan SMA Nasional dan Internasional di Jakarta dan sekitarnya ? Hubungi kami, LPP Smart Students di 08-777-1313-984 (SMS Center) atau 021 8340-1934 (Call Center)

Friday, August 24, 2012

Raksasa Tidur Bernama Indonesia

0 comments

Teks: Andrie Prasetyo


Tulisan ini saya tulis di malam 16 Agustus 2012, sehari sebelum peringatan kemerdekaan ke 67 Republik Indonesia. Qadarullah, 17 Agustus tahun ini jatuh di bulan Ramadhan, sama seperti 67 tahun yang lalu. Ya, 67 tahun yang lalu kita merdeka. Kita menyatakan pada dunia, kami adalah Indonesia dan bukan lagi Hindia Belanda, bukan jajahan siapapun juga!!!

Seingat saya, sebagai seorang anak Indonesia, saya dibesarkan dengan doktrin yang terus-menerus disebarkan di sekolah-sekolah kita bahwa negeri ini adalah negeri yang amat kaya. Tanah surga, kata Koes Plus. Tanah di mana tongkat kayu dan batu pun bisa jadi tanaman. Tanah di mana kopinya adalah kopi termahal dunia, tanah di mana hutannya menjadi paru-paru dunia, tanah yang dihuni oleh populasi terbesar keempat di dunia. Lautnya juga tak kalah indah. Sebut Bunaken dan Raja Ampat di depan para penyelam dunia, dan saya yakin pasti pujian meluncur deras dari mulut-mulut mereka.

Inilah negeri di mana budayanya adalah paduan unik budaya-budaya dari peradaban dunia sekaligus bukti kejeniusan penduduknya. Hanya di Indonesia, kita menemui masjid berarsitektur atap China dan membawa elemen punden berundak dari zaman pra Islam serta jejak peradaban Hindu-Buddha. Dalam segi kesusasteraan, kita bisa lihat bahwa Mahabarata dan Ramayana versi Indonesia amat berbeda dengan aslinya yang ada di India. Konon di sana, tak ada Semar dan ketiga anaknya. Dan tokoh Srikandi aslinya adalah seorang lelaki!!! Dari ranah kuliner, we have the most delicious dish in the world, dude! Rendang rocks!!! Dan kalau Anda lihat ke kebudayaan aslinya di Cina, kecap sebetulnya tidak pakai gula palem. Kecap manis seperti yang kita kenal di sate atau bubur ayam, adalah orisinal milik kita, Indonesia.

Ada ratusan, bahkan ribuan alasan yang bisa saya tuliskan, kenapa saya bangga menjadi orang Indonesia.
Kembali ke judul artikel ini, RAKSASA TIDUR. Ya, saya rasa tidak hanya saya, tapi juga Anda yang sedang membaca artikel ini (apapun agama dan suku Anda) pasti setuju jika saya bilang bahwa negeri kita tercinta ini sebetulnya punya modal yang lebih dari cukup untuk menjadi negeri SUPER POWER. Anda tidak salah baca, SUPER POWER! Kita punya jumlah penduduk yang hampir sama banyak dengan Amerika Serikat, dan SDA yang jaaauuuhh lebih mumpuni dari Jepang. Malah harusnya, kita kesulitan cari alasan kenapa tidak jadi negara adidaya.

Kalau negeri ini bisa kita ibaratkan sebuah tembok mega besar, maka tembok besar itu disusun oleh jutaan batu bata, KITA. Setiap kita adalah batu bata penyusun tembok Indonesia. Kalau saja, setiap kita berusaha memperbaiki diri sendiri, setiap saat, maka pada skala besar akan ada perbaikan bangsa. Tak usah dari yang muluk-muluk, dari hal sederhana saja. Buang sampah pada tempatnya, misalnya? Pandji Pragiwaksono pernah mengkritik dalam salah satu opininya, ada orang-orang Indonesia, orang-orang kita, yang ketika berada di Singapura dengan patuhnya membuang sampah pada tempatnya. Namun, orang yang sama, ketika berada di Jakarta, membuang sampah di tengah jalanan dengan cueknya.


Terakhir, saya pernah baca bahwa Malaysia pernah meluncurkan visi nasional Malaysia 2020. Artinya, negara itu menargetkan bahwa pada 2020, Malaysia akan masuk ke dalam kategori negara maju. Pemerintahnya punya visi akan jadi apa negara mereka di 2020 dan kemudian menyebarkan dan menumbuhkan keyakinan pada rakyatnya bahwa mereka bisa. Saya tak tahu, apakah presiden-presiden di negara ini punya visi macam itu, ataukah visi mereka adalah memenangkan pemilu selanjutnya??

(Selesai ditulis 17 Agustus 2012, pukul 00:47... Harapan masih ada buat Indonesia...)
[AP / SmartStudents]


===================================================================
Butuh les privat untuk SD, SMP, dan SMA Nasional dan Internasional di Jakarta dan sekitarnya ? Hubungi kami, LPP Smart Students di 08-777-1313-984 (SMS Center) atau 021 8340-1934 (Call Center)