Showing posts with label Islamic Parenting. Show all posts
Showing posts with label Islamic Parenting. Show all posts

Tuesday, April 23, 2013

Cintai Anakmu untuk Selamanya

0 comments


Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi... Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita. Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini....

Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta. Orangtua dan anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Adakah itu termasuk kita? Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala.

Inilah hari ketika kita tak dapat membela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat? Dan dunia ini adalah ladangnya...

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati. Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa 'Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding. Tapi Allah Ta'ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.

Allah Ta'ala berfirman:


"والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين"

"Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini? Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi. Termasuk kitakah?

Adakah kita benar-benar mencintai anak kita? Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat? Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Tapi adakah kita berlaku sama untuk "masa depan" mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Tengoklah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?

Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?

Maka, cintai anakmu untuk selamanya! Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta'ala. Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang. Masa yang tak bertepi.

Penulis: Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Thursday, March 28, 2013

Mandiri Semenjak Dini

0 comments

Anak muda itu, Muhammad ibnu 'Abdullah namanya. Semenjak muda, nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam sudah menggembala kambing dengan upah beberapa dinar. Di umur 25 tahun, beliau yang sudah mendapat nama baik sebagai seorang yang terpercaya di kota Makkah, membawa barang dagangan milik Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar wanita terkemuka untuk diniagakan di Syam. Di usia 12 tahun, bersama pamannya, sang pemuda terpuji itu juga telah diajak sebelumnya oleh pamannya tercinta, Abu Thalib, berniaga ke tempat yang sama.

Sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya begitu banyak diwarnai dengan semangat untuk mandiri secara ekonomi. Beberapa kalimat dari paragraf sebelumnya sudah menjadi bukti, dari Rasulullah pribadi. Semangat mandiri itu juga yang ditunjukkan 'Abdurrahman ibn 'Auf ketika berhijrah. 'Abdurrahman, yang meninggalkan seluruh asetnya di Makkah dipersaudarakan oleh sang nabi dengan Sa'ad ibn Rabi. Tergerak untuk membantu saudara seimannya, Sa'ad menawarkan untuk membagi separuh aset kekayaannya kepada 'Abdurrahman. Lebih jauh, Sa'ad bahkan menawarkan untuk menceraikan salah seorang isterinya untuk kemudian dijodohkan dengan 'Abdurrahman. Perhatikan jawaban mengagumkan ibnu 'Auf, “Semoga Allah memberkahi hartamu dan keluargamu, aku tidak memerlukan semua itu. Akan tetapi, tunjukkanlah aku dimana pasar supaya aku dapat berdagang disitu”. Inilah jawaban orang yang terdidik oleh nabi dengan semangat kemandirian dan iffah (menjaga harga diri). Sa'ad melakukan apa yang diminta saudaranya, dan selang beberapa waktu saudaranya itu telah menjelma menjadi saudagar kaya yang menguasai pasar Madinah dan bahkan mampu menikah dengan memberi mahar berupa butir emas seberat biji kurma pada isterinya.

Pertanyaannya saat ini, apakah generasi belia muslim saat ini juga diwarisi semangat yang sama oleh orang tua dan para pendidiknya? Jawabannya, bisa ya, bisa juga tidak. Sebagian dari Anda, Bapak dan Ibu pembaca yang baik, mungkin mengingat pengalaman di masa kecil bersentuhan dengan  usaha dan uang. Yang laki-laki misalnya, kelereng hasil koleksi dan mengalahkan lawan kemudian dijual untuk menambah biaya beli sepeda idaman. Atau yang tinggal di pedesaan, mencari bekicot untuk dijual sebagai pakan itik. Anda yang perempuan mungkin ada yang membuat dan menitipkan pisang goreng di warung tetangga. 
Ada sebagian orang tua yang berusaha menduplikasi pengalaman itu, meski dengan nada yang berbeda. Misalnya, ketika sekolah mengadakan Market Day atau Hari Pasar, mereka mendorong anak-anaknya menjual minuman dalam kemasan, suvenir buatan tangan, mainan kesukaan, atau pengganjal perut berupa camilan rumahan. Modalnya? Dari investor dermawan bernama Abi-Ummi, Papi-Mami, atawa Ayah-Bunda :)

Buat sebagian lain dari kita, anak dan interaksi dengan kegiatan mencari uang macam itu mungkin terlihat seperti dua hal yang sebaiknya tidak usah bertemu. "Tidak usahlah anakku capek-capek dan bersusah-susah, cukup aku saja Bapak / Ibu-nya yang mengalami." Atau ada pula orang tua yang berucap seperti ini pada anaknya, "Apa kata tetangga nanti? Dikira mereka Bapak / Ibu sudah nggak mampu lagi nafkahin kamu!"

Bapak dan Ibu, para orangtua dan pendidik yang baik, sesungguhnya ini bukan perkara rupiah atau gengsi semata. Ini perkara membentuk karakter. Bahwa orang tua mereka selalu berusaha mencukupi anak, itu mereka sudah tahu. Namun, seperti yang dibilang Rocky Balboa, "...the world ain't all sunshine and rainbow..." Dunia tak hanya berisi hal-hal yang indah. Kita tak bisa menjamin kecukupan akan berkesinambungan. Maka, inilah salah satu bekalan mereka menempuh pelayaran arungi samudera dunia. Tentu saja, juga lengkapi bekalnya dengan iman, ilmu, dan takwa. [AP/SmartStudents]



Sunday, January 27, 2013

KAYA HARTA, MISKIN BUDI

0 comments


Beberapa waktu lalu, seorang guru yang biasa mengajar di rumah siswa menuturkan tentang perilaku seorang anak didiknya ketika ia berada di rumahnya untuk mengajar. Guru ini menceritakan pengalamannya ketika ia berada di rumah siswanya kemudian tanpa disengaja ia melihat siswanya, Fandi (bukan nama asli), sedang membentak pembantunya yang perempuan  ketika pembantunya tersebut hendak menasehatinya. Bahkan, tanpa ada sikap sopan, Fandi juga membanting pintu kamarnya setelah selesai membentak pembantunya tadi. Bukan hanya itu, seorang guru lain yang kebetulan mengajar Fandi di rumahnya pernah memergokinya berbohong melalui telepon kepada ibunya yang mengatakan bahwa ia sedang berada di rumah neneknya, padahal waktu itu Fandi sedang berada di rumahnya dan asyik bermain gitar bersama kawan-kawannya.

Memang, kedua orang tua Fandi termasuk orang yang super sibuk dan terlihat jarang dirumah karena bisnis dan pekerjaannya. Sudah barang tentu, orang tua Fandi pun tergolong orang yang kaya dari sisi harta. Namun pasti, kita akan miris ketika mendengar penuturan guru Fandi yang menceritakan kelakuan dan sifat tidak baik Fandi di rumah.

Adalah hal yang lumrah jika setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, terlebih dalam hal pendidikan. Adalah hal yang wajar juga, bagi orang tua yang berkecukupan harta, ia akan berani membayar berapa pun yang penting anaknya berhasil dalam pendidikannya.

Namun, penting juga untuk disadari oleh para orang tua bahwa harta melimpah tidak menjamin kesuksesan anaknya dalam hal pendidikan. Terlebih, jika orang tua jarang ‘bersentuhan’ langsung dengan anaknya sendiri. Pasalnya, rumah sejatinya adalah tempat berlangsungnya pendidikan yang pertama kali dilakukan. Dan sudah barang tentu, orang tualah yang memegang peranan utama dalam hal pendidikan anaknya. Lingkungan keluarga juga bisa dikatakan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.

Dalam kasus Fandi diatas, boleh jadi kelakukan dan sifat kurang baiknya berasal dari lingkungan keluarga yang tidak mendukung dikarenakan orang tuanya yang jarang ‘menyentuh’nya. Ya, mungkin ini bukanlah satu-satunya penyebab, karena bisa jadi ada beberapa factor lain yang menjadikannya berperilaku kurang baik. Tapi paling tidak, ini bisa menjadi gambaran bahwa kurangnya perhatian orang tua akan berdampak negatif bagi pendidikan kepribadain anaknya. Alhasil, orang tua boleh jadi KAYA HARTA, namun anak MISKIN BUDI. Wallahu a’lam. [MI/Smart Students]                                    

                     

Friday, December 14, 2012

Mendurhakai Anak

0 comments


Seorang laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?” . “Ya, tentu,” jawab Umar tegas. Anak itu bertanya lagi, “Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?”. “Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur’an kepadanya,” jawab Umar menunjukkan. Anak itu berkata mantap, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju’al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (al-Qur’an). “Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”

Kata-kata Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu ini mengingatkan kepada kita -para bapak- untuk banyak bercermin. Sebelum kita mengeluhkan anak-anak kita, selayaknya kita bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka. Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal kitalah yang sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak kita. Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka.

Kita sering berbicara kenakalan anak, tapi lupa memeriksa apakah sebagai orangtua kita tidak melakukan kenakalan yang lebih besar. Kita sering bertanya bagaimana menghadapi anak, mendiamkan mereka saat berisik dan membuat mereka menuruti apa pun yang kita inginkan, meskipun kita menyebutnya dengan kata taat. Tetapi sebagai orangtua, kita sering lupa bertanya apakah kita telah memiliki cukup kelayakan untuk ditaati. Kita ingin mereka mengerti keinginan orangtua, tapi tanpa mau berusaha memahami pikiran anak, kehendak anak dan jiwa anak.

Pendidikan yang kita jalankan pada mereka hanyalah untuk memuaskan diri kita, atau sekedar membebaskan kita dari kesumpekan lantaran dari awal sudah merasa repot dengan kehadiran mereka. Bahkan, ada orangtua yang telah merasa demikian repotnya menghadapi anak, ketika anak itu sendiri belum lahir.

Teringatlah saya ketika suatu hari pergi bersama istri dan anak saya. Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak saya yang keempat, masih bayi waktu itu dan sedang lucu-lucunya (sekarang pun dia masih sangat lucu dan menggemaskan) . Sembari menunggu bagasi, seorang ibu yang modis bertanya kepada istri saya, “Anak pertama, Bu?”. “Bukan,” jawab istri saya, “Ada kakaknya, cuma nggak ikut.” “Ou. Memangnya, berapa anaknya, Bu?” tanya ibu itu segera. “Baru empat. Ini anak yang keempat,” jawab saya ikut menimpali. “Empat???” tanya ibu itu dengan mata terbelalak. Tampaknya ia kaget sekaligus heran. Kemudian dia segera mengajukan pertanyaan berikutnya, “Yang paling besar sudah kelas berapa?”. “TK A. Nol kecil,” jawab istri saya.

Ibu itu tampak sangat kaget. Begitu kagetnya, sehingga nyaris berteriak, “Ya, ampun.. Empat! Apa nggak repot itu? Saya punya anak satu saja rasanya sudah repot sekali. Ribut. Nggak mau diatur. Apalagi kalau empat. Nggak terbayang, deh. Bisa-bisa mati berdiri saya.”.

Ungkapan spontan ibu ini adalah cermin kita, cermin yang menggambarkan betapa banyak orang yang menjadi orangtua semata-mata karena dia punya anak.Bukan gambaran tentang kematangan jiwa atau kualitas kasih sayang. Anak hadir dalam kehidupan mereka semata-mata sebagai resiko menikah, sehingga sinar mata anak-anak yang masih jernih tanpa dosa tak mampu membuat orangtuanya terhibur.

Terkadang orangtua sudah lama merindukan anak. Tetapi ia memiliki gambaran sendiri tentang anak seperti apa yang harus lahir melalui rahimnya, sehingga ia kehilangan perasaan yang tulus saat Allah benar-benar mengaruniakan anak.Terlebih ketika yang lahir, tidak sesuai harapan. Orangtua yang sudah terlalu panjang angan-angannya, bisa melakukan penolakan psikis terhadap anak kandungnya sendiri. Atau memperlakukan anak itu agar sesuai dengan harapannya. Inginnya anak perempuan, yang lahir laki-laki. Maka anak itupun diperlakukan seperti perempuan, sehingga ia berkembang sebagai bencong. Atau sebaliknya, anak itu menjadi bulan-bulanan kekesalan orangtua, bahkan ketika anaknya sudah memiliki anak. Ketika anaknya sudah menjadi orangtua.

Kejadian semacam ini tidak hanya sekali terjadi di dunia. Karena yang lahir tidak sesuai harapan, kadang anak akhirnya menjadi tempat menimpakan kesalahan. Apapun yang terjadi, anak inilah yang menjadi kambing hitam. Setiap ada yang salah, anak inilah yang harus ikut menanggung kesalahan. Atau bahkan dia yang harus memikul seluruh kesalahan, meskipun bukan dia penyebabnya. Terkadang bentuknya tidak sampai seburuk itu, tetapi akibatnya tetap saja buruk. Anak merasa tertolak. Ia tidak kerasan di rumah, meskipun rumahnya menawarkan kemegahan dan kesempurnaan fasilitas. Ia merasa seperti tamu asing di rumahnya sendiri.

Saya teringat dengan cerita seorang kawan yang mengurusi anak-anak jalanan. Suatu ketika ia menemukan seorang anak yang babak belur mukanya dihajar sesama anak jalanan karena berebut lahan di sebuah stasiun. Wajahnya sudah nyaris tak berbentuk. Anak ini kemudian ia selamatkan. Ia rawat dengan baik dan penuh kasih-sayang. Setelah kondisi fisiknya pulih dan emosinya pun sudah cukup baik, ia tawarkan kepada anak itu dua pilihan; dipulangkan ke rumah orangtua atau dikirim ke sebuah lembaga pendidikan. Seperti anak-anak lain di muka bumi, selalu ada perasaan rindu pada orangtua. Maka ia mengajukan pilihan dipulangkan ke rumah orangtua.

Staf dari kawan saya ini kemudian berangkat mengantarkan pulang ke sebuah kota di Jawa Tengah. Nyaris tak percaya, orangtua anak itu ternyata memiliki kedudukan yang cukup terhormat. Bapaknya seorang jaksa dan ibunya seorang kepala sekolah sebuah SMP. Rumahnya? Jangan tanya. Mereka sangat kaya. Cuma satu yang mereka tidak punya: perasaan. Melihat anaknya yang sudah dua tahun meninggalkan rumah, tak ada airmata haru yang menyambutnya. Justru perkataan yang sangat tidak bersahabat, “Ngapain kamu pulang?”. Melihat sambutan yang sangat tidak bersahabat ini, staf teman saya segera mengajak anak itu kembali ke Jogja.

Tak ada airmata yang melepas. Tak ada rasa kehilangan dari orangtua saat anak itu kembali meninggalkan rumah.Yang ada hanyalah perasaan yang remuk pada diri anak. Di saat ia ingin dididik oleh orangtua yang menjadi pendidik di SMP, yang ia dapatkan justru sikap sangat kasar. Benar-benar perlakuan yang sangat kasar, menyakitkan dan menghancurkan perasaan. Jangankan anak yang masih usia SD itu, pengantarnya yang sudah dewasa pun merasakannya sebagai penghinaan luar biasa. Penghinaan tanpa perasaan, tanpa nurani dan tanpa kekhawatiran akan beratnya tanggung-jawab di yaumil-akhir. Karena itu, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali menyingkirkan si anak dari orangtuanya yang durhaka.

Kisah anak jalanan ini hanyalah satu di antara sekian banyak kedurhakaan orangtua pada anak. Tak sedikit anak jalanan yang lari dari rumah dan lebih memilih kolong jembatan sebagai tempat tinggal, padahal orangtuanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan kekayaan yang besar. Seorang anak jalanan yang sudah direhabilitasi, orangtuanya ternyata anggota dewan sebuah daerah.

Apa yang terjadi sesungguhnya? Banyak hal, tetapi semuanya bermuara pada hilangnya kesadaran bahwa anak-anak itu tidak hanya perlu dibesarkan, tetapi harus kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah Ta’ala. Hilangnya kesabaran menghadapi anak, kadang karena kita lupa bahwa di antara keutamaan menikah adalah menjadikannya sebagai sebab untuk memperoleh keturunan (tasabbub). Kita membatasi berapa anak yang harus kita lahirkan demi alasan kesejahteraan dan kemakmuran, sembari tanpa sadar kita melemahkan kesabaran dan kegembiraan kita menghadapi anak-anak.

Dulu, sebagian orangtua kita bekerja sambil memikirkan nasib anak-anak kelak setelah ia mati: masih samakah imannya? Sekarang banyak orangtua mendekap anaknya, tetapi pikirannya diliputi kecemasan jangan-jangan satu peluang karier terlepas akibat kesibukan mengurusi anak.

Dulu orangtua meratakan keningnya untuk mendo’akan anak. Sekarang banyak orangtua meminta anak berdo’a untuk kesuksesan karier orang tuanya.

Penulis : Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Monday, November 12, 2012

Kerjakan PR di Rumah

0 comments


Saat guru menerangkan, ia asyik menulis. Tampaknya mencatat, tapi wajahnya tampak tidak menyimak apa yang diterangkan oleh guru. Matanya terpaku pada buku tulis yang ada di hadapannya, tapi ia kehilangan kontak guru yang sedang menjelaskan penuh semangat di depan kelas. Sesekali ia menarik sebuah buku dari dalam laci meja, membaca dengan segera dan buru-buru memasukkan lagi, lalu ia kembali menulis sambil sesekali mengarahkan pandangan mata ke depan. Tapi ini bukan pandangan mata yang sedang mengikuti pelajaran dengan antusias.

Ia sedang serius, tapi bukan serius memperhatikan pelajaran. Ia sedang memiliki keseriusan sendiri yang tidak terkait dengan pelajaran yang sedang berlangsung. Ia tenggelam dalam kesibukan. Sesekali mengarahkan pandangan mata ke depan, seakan mendengarkan, tapi tampak bahwa mata dan pikirannya bukan sedang memperhatikan. Ada urusan lain yang sedang menanti untuk diselesaikan. A serious job is awaiting.

Sesekali ia tampak gugup, lalu menampakkan sikap berlebihan dalam memperhatikan. Duduk dengan tegap atau kelewat serius dibanding biasanya. Tetapi apa yang terjadi padanya? O, rupanya sebuah PR sedang ia tuntaskan pengerjaannya (finishing the task) di kelas, meski sedang berlangsung pelajaran lain. Akibatnya, ia tidak mampu memperhatikan dengan baik seluruh proses pembelajaran yang berlangsung. Ia kehilangan kegairahan dan antusiasme belajar pada saat itu. Dan ini tentu akan berakibat menurunnya perhatian terhadap pelajaran itu di waktu-waktu berikutnya.

PR-nya memang selesai ia kerjakan. Ia merampungkan pengerjaan tugas (finishing the task), tapi ia sebenarnya tidak menyelesaikan tugas dengan baik (completing the assignment well). Dua hal ini sangat berbeda. Tapi jika guru tidak memberi umpan balik (feedback) dengan baik dan tepat kepada siswa, maka sulit sekali membedakan mana siswa yang hanya merampungkan pengerjaan tugas dan mana siswa yang bersungguh-sungguh menyelesaikan tugas. Dan jika ini diabaikan, siswa dapat kehilangan motivasi belajar (academic motivation) yang bersifat sesaat atau berkelanjutan sehingga pada akhirnya motivasi belajar siswa benar-benar payah. Jika masih tetap diabaikan, dapat menular kepada siswa yang lain sehingga merusak iklim kelas (classroom climate) secara keseluruhan.
 Nah.

Inilah kenyataan yang tak jarang membingungkan guru dan kepala sekolah. Kegiatan motivasi sudah sering dilakukan. Training motivasi tak kurang-kurang. Bahkan bila perlu mendatangkan trainer-trainer kondang dengan segala kegiatan ice-breaking yang heboh. Tetapi sesudah training berlalu, sebulan kemudian sudah tak berbekas lagi.

Bukan tidak boleh menyelenggarakan training motivasi untuk siswa. Tapi tanpa memperhatikan hal-hal yang dapat menjaga dan menguatkan motivasi, meski tampaknya bukan kegiatan motivasi, maka seluruh training yang menghebohkan itu akan menguap begitu saja. Sesaat begitu menggugah, selanjutnya nyaris tanpa bekas.


Bukan Jawaban yang Benar

Yang paling penting dari pemberian pekerjaan rumah (PR) bukan agar siswa mampu menjawab dengan benar (answering right). Bukan. Jauh lebih penting daripada sekedar menemukan jawaban yang benar adalah proses belajar, bagaimana siswa memahami materi pelajaran dan tertarik dengannya (making connection with lesson) serta berusaha mengerjakan secara sungguh-sungguh dan menemukan jawaban baik (completing assignment and answering well).

Ada perbedaan antara menjawab dengan jawaban yang benar (answering right) dengan menjawab secara sungguh-sungguh melalui proses yang benar (answering well). Jika guru hanya menuntut siswa untuk menemukan jawaban yang benar, maka proses menjadi tidak penting. Kualitas pengerjaan PR hanya dinilai dari jumlah jawaban yang benar dan salah, lalu memberi skor alias nilai. Bagaimana prosesnya sehingga siswa sampai kepada jawaban itu, sama sekali tidak penting. Kalau pun dianggap penting, siswa tidak merasakan pentingnya karena tidak ada umpan balik (feedback). Padahal benar atau salah, sama-sama sangat berharga bagi proses belajar siswa jika guru memberi umpan balik secara tepat. Jika siswa menjawab salah, mereka tahu mengapa mereka salah dan apa sebabnya. Jika mereka menjawab benar, mereka juga dapat memastikan bahwa benarnya jawaban bukan semata karena kebetulan hasil akhirnya benar. Sebab jika yang benar hanya hasil akhirnya, sesungguhnya ini bukanlah jawaban yang benar, melainkan semata kebetulan jawabannya bersesuaian dengan yang benar.

Jawaban benar tapi prosesnya salah, dalam masalah dien ibarat benar kesimpulan hukumnya tapi keliru dalilnya. Menunjukkan keutamaan memaafkan, tapi dalilnya “rahmatan lil ‘alamin”. Sama sekali tidak tepat. Memaafkan memang mulia, tapi “rahmatan lil ‘alamin” sama sekali tidak terkait dengan memaafkan.

Saya jadi teringat pengalaman di kelas 3 di SMA Negeri 2 Jombang, Jawa Timur. Sulit sekali hati merasa tenang jika siswa tidak mengerjakan sendiri PR-nya. Salah atau benar, siswa perlu memahami bagaimana jawaban itu diperoleh. Dan siswa tidak akan paham jika ia hanya menyalin pekerjaan temannya. Siswa seperti inilah yang akan deg-degan selama pembahasan PR sebab sewaktu-waktu ia akan ditanya bagaimana prosesnya memperoleh jawaban. Siswa seperti ini yang biasanya tampak gelisah. Padahal guru justru sering menunjuk siswa yang gelisah, meski kadang langsung menanyai mengapa gelisah.

Perlakuan yang tepat terhadap hasil pengerjaan PR siswa menjadikan mereka bergairah mengerjakan tugas di waktu-waktu berikutnya, baik berupa PR maupun tugas yang langsung dikerjakan di sekolah. Jika guru lebih mementingkan bagaimana siswa menemukan jawaban dan bukan bersibuk dengan apa jawabannya, maka siswa akan lebih bersemangat mengikuti pembahasan soal dan pelajaran yang mengikutinya. Boleh jadi siswa salah dalam menjawab, tetapi kesalahan itu justru menjadi pintu untuk mampu mengerjakan tugas secara benar. Inilah yang memicu siswa lebih suka memilih soal yang tingkat kesulitannya tinggi –jika mereka diberi pilihan—daripada soal yang mudah. Ia menyukai soal-soal dengan tingkat kesulitan lebih tinggi karena memberi tantangan yang lebih besar dan dengan sendirinya memberi peluang belajar yang lebih tinggi. Tetapi jika guru berorientasi pada hasil jawaban, lalu memberi skor pada pekerjaan siswa seraya memuji yang hasilnya bagus, siswa cenderung tidak berani ambil resiko. Mereka lebih menyukai soal yang mudah karena peluang memperoleh skor/nilai yang bagus akan lebih tinggi. Mereka lebih mementingkan kesempatan memperoleh nilai yang baik daripada kesempatan belajar yang lebih menantang. Jika sudah berkerak jadi penyakit, mereka lebih suka teknik instant mengerjakan soal daripada pemahaman mendalam terhadap pelajaran.

Hari ini, apakah yang terjadi pada anak-anak kita (bahkan mahasiswa kita)? Mereka lebih menyukai soal yang mudah atau mereka lebih menunjukkan kegairahan menghadapi tantangan? Mari kita jawab secara jujur. Dan itulah gambaran nyata mutu pendidikan kita.

Jadi, apakah kita sebaiknya tidak memberi skor/nilai pada hasil pengerjaan PR siswa? Sesekali boleh, tanpa memberitahukan kepada mereka terlebih dulu. Yang jelas, kita harus memberi umpan balik secara tepat dan efektif kepada mereka. Bukan sekedar memeriksa tugas.



Kerjakan PR di Rumah

Jangan pernah izinkan siswa mengerjakan PR di sekolah. Pastikan siswa menyelesaikan tugas-tugas tersebut di rumah sebagai proses pembelajaran terencana dari guru. Mengerjakan tugas secara keseluruhan atau menyelesaikan yang tersisa di sekolah, menyebabkan mereka kehilangan waktu berharga di awal masuk kelas. Meskipun mereka mengerjakan saat istirahat, atau sebelum pelajaran dimulai, tetapi ini berpengaruh besar terhadap kegairahan mereka belajar pada jam-jam berikutnya. Perhatian mereka telah banyak terenggut untuk mengerjakan PR yang tersisa atau bahkan mengerjakan sepenuhnya di kelas.

Ada dua keadaan yang patut dipikirkan tentang mengerjakan PR di kelas. Pertama, jika siswa mengerjakan sendiri PR tersebut, perhatiannya akan banyak terkuras. Lebih-lebih jika jadwal pelajaran yang di dalamnya ada penugasan tersebut ada di jam terakhir, praktis siswa tidak dapat mengikuti seluruh mata pelajaran sebelumnya dengan penuh perhatian. Badannya ada di kelas, matanya seperti memperhatikan guru yang sedang menerangkan, tapi pikirannya ada pada PR. Ia sibuk mencuri kesempatan dan menenggelamkan diri dalam tugas yang diterimanya.

Kedua, jika ia mencontoh alias menyalin hasil pengerjaan PR temannya, maka perhatiannya akan banyak tersita untuk menyalin. Situasi psikisnya dapat seperti ilustrasi yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Ia menyibukkan diri menyalin, mengabaikan pembelajaran yang sedang berlangsung, dan sesekali menunjukkan pura-pura memperhatikan.

Jika guru biasa memberi umpan balik, siswa yang hanya menyalin PR temannya akan memiliki kecemasan lebih tinggi. Ia khawatir nanti akan diberi pertanyaan oleh guru terkait hasil pekerjaannya. Salah satu benar, jika bukan ia sendiri yang mengerjakan, akan sulit baginya untuk menjelaskan. Sebaliknya jika tidak ada umpan balik, sementara guru hanya memberi skor terhadap hasil pengerjaan PR, maka sangat mungkin akan terjadi demotivasi. Siswa yang mencontoh tidak merasa khawatir, sementara yang dicontoh merasa rugi telah bekerja keras.

Tetapi..., untuk sementara anggaplah mereka mengerjakan sendiri PR tersebut. Tidak adanya pengawasan yang ketat sehingga memungkinkan siswa menyelesaikan tugas (completing the assignment) di kelas, menjadikan kehilangan saat berharga untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Selain kehilangan gairah dan kegembiraan belajar, merampungkan PR di kelas menjadikan anak tidak dapat mengikuti instruksi guru dengan baik. Padahal, ia seharusnya mengerahkan seluruh perhatian dan energinya untuk menyerap apa yang diterangkan guru.

Jika siswa tidak dapat mencerna pelajaran dengan baik, maka ia pun akan kurang bergairah mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Dan ini membawa akibat berkelanjutan. Motivasi belajarnya (academic motivation) menurun terhadap mata pelajaran tersebut dan bahkan dapat merembet ke mata pelajaran lain. Antusiasme belajarnya juga berkurang. Ia berada di kelas, tetapi tidak nyambung dengan pelajaran (lack of connection with lesson).

Penjelasan ini menegaskan sekali lagi bahwa memotivasi anak sama sekali tidak cukup hanya dengan memberi mereka training motivasi. Training motivasi yang hebat tidak akan memberi manfaat apa-apa jika hal-hal yang menyertai belajar anak diabaikan oleh guru. Sebaliknya, tanpa memberi mereka training motivasi sama sekali, jika pengelolaan kelas, strategi penyampaian materi pelajaran, iklim kelas dan budaya sekolah diperhatikan dengan baik, maka anak-anak itu akan memiliki motivasi belajar (academic motivation yang kuat).

Ini bukan berarti sekolah terlarang menyelenggarakan training motivasi. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa training hanyalah salah satu skrup kecil. Itu bersifat aksesoris.

Sekedar catatan, saya sendiri sering memberi training motivasi kepada anak. Saya juga pernah memiliki status formal sebagai wakil kepala sekolah bidang motivasi. Dan justru karena itulah, saya harus menyampaikan kepada Anda agar tidak keliru mengambil kebijakan.

Selebihnya, guru juga harus memperhatikan PR-nya sendiri. Jika kita menuntut anak mengerjakan PR di rumah, kita pun harus menuntaskan PR kita sendiri sebelum tiba di sekolah. Jangan sampai kita masih kelabakan mencari bahan saat akan mengajar. Padahal kita sudah berada di kelas.

Nah.

Penulis : Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Bacaan lebih lanjut:

The Art and Science of Teaching, Robert J. Marzano, 2007
The End of Molasses Classes, Ron Clark, 2011
Rethinking Homework karya Cathy Vatterott, 2009

Monday, October 22, 2012

Menata Pikiran Remaja

0 comments


Ada tiga hal yang sedang berkembang. Pertama, mereka memiliki pertanyaan-pertanya­an mendasar tentang agama, terutama apabila mereka dibesarkan dengan perintah-perintah tanpa membangun cara berpikir mereka tentang tuhan. Mereka hanya dike­nalkan dengan aturan-aturan tanpa memperoleh pendidikan akidah yang memadai. Kedua, mereka sedang ingin menunjukkan otoritas dan kemampuannya; bahwa mereka mampu bertanggung-jawab penuh atas diri mereka sendiri. Mereka ingin menjadi pribadi mandiri. Ketiga, mereka mulai memiliki ketertarikan ter­hadap lawan jenisnya dan ingin memiliki ikatan emosi yang bersifat khusus.

Apakah remaja merupakan masa keguncangan (storm & stress) dimana mereka mengalami krisis identitas? Tidak selalu demikian. Mari kita buka buku karya John W. Santrock yang berjudul Adolescence (2001). Kita melihat di sana bahwa ada remaja yang mengalami krisis identitas –dan banyak jumlahnya—sehingga tidak sedikit yang berperilaku aneh, tetapi ada pula yang tidak mengalami krisis identitas. Mereka memasuki masa remaja dengan identitas yang sangat kokoh. Inilah yang disebut sebagai identity foreclo­sure.

Tentu bukan kebetulan kalau mereka tidak mengalami krisis identitas. Pertanyaannya, apa yang menyebabkan mereka mampu memasuki masa remaja dengan identitas diri yang jelas dan kepribadian yang mantap? Jawabnya bisa kita runut pada masa sebelum mereka memasuki usia remaja. Anak-anak yang tidak mengalami krisis identitas itu adalah mereka yang sebelum memasuki masa remaja telah me­miliki orientasi hidup yang benar, tujuan hidup yang jelas dan nilai-nilai yang kuat.

Dari tiga hal tersebut, mana yang paling berpengaruh terhadap kehidupan remaja? Sangat ter­gantung bagaimana mereka dibesarkan, baik oleh orangtua di rumah maupun guru di sekolah, apa yang paling sering mereka perhatikan, terpaan media yang paling sering mereka terima serta nilai-nilai utama yang sering mereka terima dari buku-buku, guru-guru, orangtua dan lingkungan. Jika sekolah secara teren­cana memiliki penghargaan yang sangat tinggi terhadap usaha yang gigih, maka remaja akan cenderung lebih mengembangkan kompetensi, kreativitas serta kapasitas mereka untuk mandiri. Sebaliknya jika ling­kungan sekolah justru merupakan tempat pertaruhan gengsi dimana anak merasa tersisih jika tidak punya HP, maka krisis identitas mudah terjadi dan ketertarikan terhadap lawan jenis beserta turunannya berkem­bang lebih pesat daripada aspek-aspek lainnya.

Itu sebabnya, sekolah perlu mempertimbangkan kembali izin membawa HP ke sekolah bagi para siswa, sekalipun untuk jenjang SLTA.

Pada dasarnya, tiga hal tersebut perlu mendapat perhatian dari para pendidik. Jika aspek pertama berkembang dengan baik sehingga pertanyaan-pertanyaan mendasarnya tentang agama memperoleh jawaban yang memuaskan, mereka akan tumbuh menjadi manusia idealis. Jika sekolah mampu memba­ngun budaya belajar yang kuat, mereka akan tumbuh sebagai manusia yang kaya gagasan, penuh inovasi dan memiliki keberanian tinggi untuk berusaha dan siap menghadapi kegagalan. Ini merupakan bekal ber­harga untuk menjadi manusia tangguh dan sukses. Adapun dorongan terhadap lawan jenis, jika memperoleh pembinaan yang tepat, akan berkembang menjadi kesiapan berumah-tangga, orientasi untuk berkeluarga, penghormatan terhadap orangtua dan rasa tanggung-jawab terhadap yang usianya lebih mudah. Dorong­an untuk menyukai lawan jenis bisa berkembang “ke kiri” sehingga remaja menyibukkan diri dengan urusan syahwat, bisa berkembang “ke kanan” sehingga remaja mengembangkan cinta yang tulus, minat terhadap masalah rumah-tangga, kasih-sayang kepada sesame dan rasa tanggung-jawab terhadap keluarga. Yang disebut terakhir ini sekaligus berperan penting menguatkan aspek kedua, yakni dorongan untuk mandiri.

Lalu, kapan kita mulai bisa menumbuhkan rasa tanggung-jawab terhadap yang usianya lebih mu­dah? Saya tidak bisa menjawab secara pasti. Saya masih perlu belajar lebih jauh. Yang bisa saya sampai­kan adalah, kita sudah bisa memberi tanggung-jawab “secara penuh” kepada anak-anak kelas 1 SD agar membimbing adik-adiknya. Ini diwujudkan dalam bentuk program pendampingan terhadap adik kelas, sehingga begitu mereka naik kelas 2, tiap anak memiliki tanggung-jawab mendampingi dan membimbing satu adik kelasnya.


Menata Orientasi Terhadap Lawan Jenis

Dorongan untuk menyukai lawan jenis itu merupakan keniscayaan. Bentuknya bisa berupa hasrat untuk berpacaran, menyukai pembicaraan yang berhubungan dengan kemolekan maupun seks, bisa juga menumbuhkan kecenderungan untuk bersibuk-sibuk dengan hal-hal yang berkait dengan daya tarik diri. Penyimpangan dari dorongan ini bisa berwujud kecenderungan homoseksualitas, biseksualitas, penampilan tomboy, voyeurism, banci –baik dalam cara berbicara maupun berpakaian—serta berbagai bentuk penyimpangan seks lainnya. Adapun jika dorongan memperoleh pembinaan dan arah yang baik akan berkembang menjadi penghormatan terhadap lawan jenis, penjagaan diri dari kemaksiatan dan ke­inginan yang kuat untuk memiliki rumah-tangga yang ideal. Dalam hal ini, contoh nyata yang menginspi­rasi sangat besar perannnya.

Dari sini kita bisa memahami mengapa di Singapura usia 16 tahun diperbolehkan untuk menikah dengan syarat sudah mengantongi ijazah parenting, yakni ijazah yang diperoleh setelah seseorang me­nempuh short course (kursus singkat) tentang pengasuhan anak dan komunikasi keluarga. Ini bukan soal gizi, bukan pula soal teknologi informasi, tetapi soal orientasi terhadap lawan jenis. Dan inilah yang justru kita abaikan. Kita lebih sibuk mereaksi fenomena yang sedang muncul daripada mengkaji apa yang seha­rusnya kita lakukan terhadap remaja yang memberi manfaat jangka panjang. Reaksi terhadap fenomena kerapkali hanya mengatasi masalah secara parsial dan bersifat jangka pendek.

Ini bukan berarti kita tidak boleh belajar bagaimana berbicara tentang seks kepada remaja –ter­masuk anak-anak. Tetapi jika kecenderungan untuk menyimpang sudah merupakan gejala umum, maka yang harus kita lakukan adalah menata ulang sekolah kita dan lebih awal dari itu adalah pengasuhan anak di rumah. Akan lebih baik lagi jika kita mampu melakukan perubahan pada tingkat kebijakan media massa; sumber kerusakan sosial yang paling dahsyat dan memperoleh perlindungan maksimal di negeri ini de­ngan berlindung di balik baju kebesaran bernama hak asasi dan kebebasan pers.

Lalu bagaimana jika remaja kita sudah terlanjur salah arah sehingga mereka justru sibuk berpi­kir tentang seks dan bukannya mengembangkan prestasi? Ada yang harus kita kerjakan. Ada dua pilihan: kita mengikuti arus mereka atau memutar arah berpikir mereka. Pilihan pertama lebih ringan menjalaninya, tapi siapkah kita mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak apabila mereka menjadi musuh di hadapan Allah Ta’ala? Bahkan, jangan-jangan sebelum mati pun, mereka telah amat menyusahkan kita.

Saya ingin sekali berbincang lebih jauh tentang ini. Tetapi maafkanlah saya, kali ini belum memungkinkan bagi saya untuk berbincang lebih jauh.

Penulis: Ust. Mohammad Fauzil Adhim
SUMBER

Thursday, October 18, 2012

Mencari Sekolah Islam yang Islami

0 comments

Jika sekolah Islam tak lagi bersungguh-sungguh menanamkan iman sejak hari pertama masuk sekolah, dan menguatinya hingga mereka lulus, maka apakah yang membedakannya dengan sekolah-sekolah umum?

Jika sekolah-sekolah Islam tak lagi berserius menumbuhkan kecintaan shalat semenjak awal anak belajar, dan tidak mendampingi mereka satu per satu untuk mampu melakukan wu
dhu dan shalat dengan benar, tertib dan bersungguh-sunggguh, masih adakah alasan bagi kita untuk memasukkan anak kita di sana?

Sekolah-sekolah Islam harus sepenuhnya sadar bahwa kuatnya penanaman iman dan ibadah inilah yang menjadi pembeda penting dari sekolah-sekolah lainnya. Berawal dari iman yang kuat, mereka kita pacu untuk berprestasi. Artinya, justru iman itulah yang menjadi pemacunya sekaligus penjaga arah dari niat mereka belajar. Bukan menjadikan agama hanya sekedar fungsi instrumental. Kalau mau ujian, baru kita berserius mengajak mereka melakukan do'a bersama. Bukan pula bersibuk dengan prestasi akademik, tapi hal pokok justru terlupakan. Sebagaimana, sangat tidak tepat menjadikan iman dan prestasi sebagai dua hal yang bertentangan. Justru, mereka yang beriman harusnya lebih bersemangat belajar.

Ini yang perlu dilihat kembali oleh sekolah-sekolah Islam. Sudah adakah? Ataukah kita bahkan tidak resah manakala SD kelas 4 shalatnya masih berantakan? Apalagi jika sudah kelas 6.

Wahai para guru, kelak Allah Ta'ala akan bertanya kepadamu atas amanah yang engkau bersedia memikulnya hari ini!





Penulis: Ust. Mohammad Fauzil Adhim