Showing posts with label Kabar Dunia Islam. Show all posts
Showing posts with label Kabar Dunia Islam. Show all posts

Saturday, August 17, 2013

Apa Arti Nasionalisme Buatmu?

0 comments

Kemarin, 17 Agustus 2013, rakyat Indonesia memperingati 68 tahun kemerdekaannya dari tangan para penjajahnya. Meskipun, secara teknis pemerintah Belanda hanya mau mengakui kemerdekaan Indonesia per tanggal 27 Desember 1949, sesuai dengan tanggal resmi penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda ke Republik Indonesia. Memang, hampir selama tujuh dekade merdeka, bangsa ini tidak sempurna, banyak cacat dan celanya.

Sebagai negara yang lahir pasca dan akibat Perang Dunia II, Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak negara nation state. Pengertian nation state adalah negara yang berbasis kebangsaan, di mana negara didirikan atas dasar rasa senasib-sepenanggungan oleh mereka-mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai satu bangsa. Sebelum terbentuknya Indonesia, tidak ada itu suku Jawa, suku Sunda, suku Banjar, dll. Yang ada adalah kerajaan-kerajaan tersendiri, bangsa-bangsa tersendiri. Maka Indonesia ini adalah bangsa yang bukan diikat oleh sentimen etnis, karena semua bangsa-bangsa itu--dengan ketinggian budaya-budayanya masing-masing--telah bersepakat membentuk identitas kebangsaan baru bernama bangsa Indonesia.

Mencintai tanah air dan tanah kelahiran adalah sesuatu yang wajar, adalah sesuatu yang manusiawi jika kita memiliki perasaan spesial terhadap sebuah tempat di mana kita begitu banyak memiliki kenangan manis dalam hidup. Bukankan 'Umar ibn. Khatthab pun amat mencintai Madinah, hingga ia meminta pada Allah agar disyahidkan di kota itu? Namun, sebagai muslim, kita harus mewaspadai agar kecintaan itu tidak berubah menjadi ashobiyah, kecintaan yang berlebihan atas kabilah, suku, atau tempat tinggal. Sebagaimana suku Aus dan Khazraj telah berperang-menahun sebelum kedatangan Islam. Aus dan Khazraj sebagai teladannya, ketika Islam sudah mempersatukan, maka sekat-sekat wilayah dan kesukuan, tak boleh mencederai ukhuwwah, persaudaraan atas dasar aqidah.

Hari-hari ini, Mesir, salah satu negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia, sedang berduka dan ditimpa bencana kemanusiaan. Hampir sama seperti Indonesia pra kejatuhan Bung Karno dan Pak Harto, Mesir dicekam ketakutan akibat angkatan bersenjatanya membunuh putera-puteri bangsanya sendiri. Begitulah sejarah, seringkali ceritanya sama, hanya tokohnya yang berbeda. Dulu ada Trisakti di Indonesia, sementara kini di negeri Kinanah sana ada cerita horor dari Rab'ah Adawea.

Inilah ukhuwwah. Mereka yang sedang dizalimi di sana adalah saudara-saudara kita, muslim. Kalau kita tak bisa--atau mungkin tak mau--menolong mereka, paling tidak janganlah kita nyinyir terhadap mereka, seperti apa yang dilakukan para pentolan Jaringan Islam Liberal. Mereka yang selama ini berteriak-teriak tentang demokrasi dan HAM justru menyalahkan para demonstran yang sudah dihabisi tanpa ampun dengan--meminjam ungkapan Pak Taufiq Ismail--peluru yang dibeli dari hasil buminya sendiri.

Menjadi seseorang yang mencintai Indonesia, bukan berarti berlepas diri dari kesulitan yang membelenggu saudara kita di tempat lain. Ah... Bukan itu... Mereka-mereka yang bilang, "Ngapain ngurusin negara orang, negara sendiri saja masih kacau!" entah jadi apa seandainya dulu rakyat Mesir melakukan yang sama pada kita rakyat Indonesia. Tentu kita tahu, syarat sebuah negara merdeka tak cukup punya wilayah dan rakyat, namun juga harus ada pengakuan dari negara lain.

Seperti kata PM Turki, Recep Tayyip Erdogan, Anda tak mesti jadi warga Mesir, dan bahkan tak perlu jadi muslim untuk menolak pembantaian di Mesir. Cukuplah menjadi manusia saja. [AP/SmartStudents]

Friday, April 26, 2013

Ustadz Gaul, Remaja Alay, dan Dakwah

0 comments

Kemarin, Jum'at 26 April 2013, kaum muslimin di Indonesia dikagetkan dengan kabar wafatnya alm. Ustadz Jeffry al-Buchory. Da'i muda ini--baru berusia 40 tahun ketika malaikat maut menjemput--wafat dengan meninggalkan seorang isteri, tiga orang anak, dan begitu banyak kenangan baik di mata umat Islam. Uje, demikian almarhum biasa disapa, merupakan seorang da'i yang mengkhususkan diri berda'wah di kalangan anak muda. Beliau pun termasuk kategori ustadz yang dikenal sebagai "Ustadz Gaul".

Wafatnya Uje mengundang reaksi hebat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya (internet). Di media sosial macam facebook dan twitter, begitu banyak ucapan belasungkawa, mulai dari aparat negara hingga kawula biasa. Pada satu titik, tag pagar (hashtag) #Uje sempat menjadi trending topic di twitter.

Mengingat objek dakwah Uje sebagian besarnya adalah remaja dan anak muda, penulis ingin mengajak para pembaca sama-sama memikirkan beberapa hal ini dengan seksama. Di bawah ini adalah screenshot dari sebuah halaman dakwah di Facebook, terkait berita wafatnya Uje:
Yang ingin penulis soroti bahwa ternyata ada kecenderungan di kalangan anak muda kita untuk meng-alay-kan semua kata-kata. Adanya perubahan kata "semangat" menjadi "Cmunguddh" atau "ya" menjadi "ea" saja sebetulnya sudah cukup mengganggu. Apalah lagi merubah seruan "Ya Allah!" menjadi "Yowwoh". Betul, bahwa di masa remaja kita--seperti kata Raditya Dika--kita semua pasti pernah "alay", melakukan hal-hal tertentu supaya dianggap keren, padahal aslinya norak. Namun, itu semua ada batasnya. 

Contoh keinginan dianggap eksis yang melampaui batas kepatutan juga ditunjukkan oleh para siswi sebuah SMU di Toli-Toli yang melakukan tarian a la "Harlem Shake" dan digabung dengan gerakan shalat. Mereka, saat melakukannya bisa jadi hanya berniat eksis, menjadi lain dari yang lain, namun mereka tidak berpikir lebih jauh akan akibat yang muncul karena perbuatan mereka. 

Dua contoh di atas agaknya cukup untuk membuktikan, saatnya dakwah kembali melirik dan merangkul anak muda dan remaja. Biar bagaimanapun, merekalah wajah bangsa ini di masa depan. Semoga, ke depan, kita bisa sama-sama melihat anak-anak muda yang memenuhi shaf-shaf pertama shalat berjamaah di masjid-masjid. Amiin. Mari, lanjutkan perjuangan Uje. [AP/SmartStudents]

Monday, October 22, 2012

Muslim Perancis Tuntut Kelompok Anti Islam yang Duduki Masjid Dibubarkan

0 comments


Dewan Muslim Perancis (CFCM) mendesak pada hari Senin kemarin (22/10) pemerintah untuk melarang sebuah kelompok sayap kanan yang “menduduki” sebuah masjid pada hari Sabtu lalu dan mengeluarkan “pernyataan perang” melawan apa yang mereka sebut Islamisasi Perancis.
Presiden CFCM Mohammed Moussaoui mengatakan Dewan juga ingin adanya perlindungan yang lebih baik bagi masjid dan pemakaman muslim dari serangan rasis, yang katanya melonjak tajam pada tahun 2011 dan terus meningkat pada tahun ini.

Beberapa pengunjuk rasa dari 73 gerakan yang disebut Kelompok Identitas menyita sebuah masjid di kota barat Poitiers pada hari Sabtu lalu dan membentangkan spanduk mengacu pada sejarah Charles Martel yang mengalahkan tentara Muslim di tahun 732. Mereka juga menduduki masjid selama lebih dari enam jam sebelum polisi mengeluarkan mereka.

Dalam video yang diposting di situsnya, gerakan mengeluarkan apa yang disebut “deklarasi perang” terhadap multikulturalisme. Mereka juga menyerukan referendum untuk memblokir imigrasi lebih lanjut dari luar Eropa dan pembangunan masjid di Perancis.

“Kami menuntut pembubaran kelompok ini,” kata Moussaoui.

Moussaoui mengatakan aksi protes, pertama kalinya sebuah masjid di Perancis diduduki seperti itu, mewakili eskalasi baru dalam kekerasan terhadap Muslim.

Tindak kekerasan dan ancaman terhadap Muslim meningkat sebesar 34 persen pada 2011 dibanding 2010, dan naik lagi sebesar 14 persen pada semester pertama tahun ini, katanya kepada wartawan.(fq/reu)

SUMBER