Thursday, August 22, 2013

0 comments

HIDUP INI SINGKAT!


Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia,
BAGAIMANA Anda ingin dikenang?
Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia,
Apa kata-kata terakhir yang ingin Anda dengar dari orang-orang yang mencintai Anda?
Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia, apakah Anda sudah memberikan yang TERBAIK?
Jika hari ini adalah hari terakhir Anda di dunia, Apa yang Anda tinggalkan?
Apakah Anda layak sukses?
Apakah Anda sudah berusaha yang terbaik?
Apakah Anda membuat orang lain bangga?
Apakah Anda meninggal seperti seorang PEJUANG?....atau PECUNDANG?
Berapa jam sehari Anda mengabdikan waktu Anda untuk bertumbuh?
Berapa jam sehari waktu terbuang percuma?
Semoga masih ada hari esok!

Hidup ini pilihan! Mana yang Anda pilih?
Hidup ini singkat, jadi....
        
(Diambil dari buku “The Power of Kepepet”, Penulis: Jaya Setiabudi)

Saturday, August 17, 2013

Apa Arti Nasionalisme Buatmu?

0 comments

Kemarin, 17 Agustus 2013, rakyat Indonesia memperingati 68 tahun kemerdekaannya dari tangan para penjajahnya. Meskipun, secara teknis pemerintah Belanda hanya mau mengakui kemerdekaan Indonesia per tanggal 27 Desember 1949, sesuai dengan tanggal resmi penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda ke Republik Indonesia. Memang, hampir selama tujuh dekade merdeka, bangsa ini tidak sempurna, banyak cacat dan celanya.

Sebagai negara yang lahir pasca dan akibat Perang Dunia II, Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak negara nation state. Pengertian nation state adalah negara yang berbasis kebangsaan, di mana negara didirikan atas dasar rasa senasib-sepenanggungan oleh mereka-mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai satu bangsa. Sebelum terbentuknya Indonesia, tidak ada itu suku Jawa, suku Sunda, suku Banjar, dll. Yang ada adalah kerajaan-kerajaan tersendiri, bangsa-bangsa tersendiri. Maka Indonesia ini adalah bangsa yang bukan diikat oleh sentimen etnis, karena semua bangsa-bangsa itu--dengan ketinggian budaya-budayanya masing-masing--telah bersepakat membentuk identitas kebangsaan baru bernama bangsa Indonesia.

Mencintai tanah air dan tanah kelahiran adalah sesuatu yang wajar, adalah sesuatu yang manusiawi jika kita memiliki perasaan spesial terhadap sebuah tempat di mana kita begitu banyak memiliki kenangan manis dalam hidup. Bukankan 'Umar ibn. Khatthab pun amat mencintai Madinah, hingga ia meminta pada Allah agar disyahidkan di kota itu? Namun, sebagai muslim, kita harus mewaspadai agar kecintaan itu tidak berubah menjadi ashobiyah, kecintaan yang berlebihan atas kabilah, suku, atau tempat tinggal. Sebagaimana suku Aus dan Khazraj telah berperang-menahun sebelum kedatangan Islam. Aus dan Khazraj sebagai teladannya, ketika Islam sudah mempersatukan, maka sekat-sekat wilayah dan kesukuan, tak boleh mencederai ukhuwwah, persaudaraan atas dasar aqidah.

Hari-hari ini, Mesir, salah satu negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia, sedang berduka dan ditimpa bencana kemanusiaan. Hampir sama seperti Indonesia pra kejatuhan Bung Karno dan Pak Harto, Mesir dicekam ketakutan akibat angkatan bersenjatanya membunuh putera-puteri bangsanya sendiri. Begitulah sejarah, seringkali ceritanya sama, hanya tokohnya yang berbeda. Dulu ada Trisakti di Indonesia, sementara kini di negeri Kinanah sana ada cerita horor dari Rab'ah Adawea.

Inilah ukhuwwah. Mereka yang sedang dizalimi di sana adalah saudara-saudara kita, muslim. Kalau kita tak bisa--atau mungkin tak mau--menolong mereka, paling tidak janganlah kita nyinyir terhadap mereka, seperti apa yang dilakukan para pentolan Jaringan Islam Liberal. Mereka yang selama ini berteriak-teriak tentang demokrasi dan HAM justru menyalahkan para demonstran yang sudah dihabisi tanpa ampun dengan--meminjam ungkapan Pak Taufiq Ismail--peluru yang dibeli dari hasil buminya sendiri.

Menjadi seseorang yang mencintai Indonesia, bukan berarti berlepas diri dari kesulitan yang membelenggu saudara kita di tempat lain. Ah... Bukan itu... Mereka-mereka yang bilang, "Ngapain ngurusin negara orang, negara sendiri saja masih kacau!" entah jadi apa seandainya dulu rakyat Mesir melakukan yang sama pada kita rakyat Indonesia. Tentu kita tahu, syarat sebuah negara merdeka tak cukup punya wilayah dan rakyat, namun juga harus ada pengakuan dari negara lain.

Seperti kata PM Turki, Recep Tayyip Erdogan, Anda tak mesti jadi warga Mesir, dan bahkan tak perlu jadi muslim untuk menolak pembantaian di Mesir. Cukuplah menjadi manusia saja. [AP/SmartStudents]

Thursday, June 13, 2013

Kantor baru LPP Smart Students

0 comments

Pembaca blog LPP Smart Students yang kami hormati, mulai bulan Juni 2013. LPP Smart Students bekerjasama dengan Yayasan Masjid al-Muttaqin Rengas, Ciputat Timur, untuk mengadakan layanan Bimbingan Belajar, Les Privat (guru ke rumah) SD-SMP-SMA Nasional-Internasional, dan Traning Motivasi-Skill yang lebih baik lagi untuk Anda.

Alamat kami di Masjid Al-Muttaqin, Rempoa, Jl. Wijaya Kusuma I, Rengas, Ciputat Timur, 15412. Untuk SMS Center dan telepon, kami bisa dihubungi di 08-777-1313-984 dan 021-93111-064.

Berikut adalah beberapa gambar kegiatan kami di tempat yang baru :)










Bismillah, mari mulai tahun ajaran baru di tempat yang baru, semoga lebih berkah! Mau ikutan bimbingan belajar, les privat, atau training motivasi & skill? Smart Students aja :)  [AP/SmartStudents]

Monday, April 29, 2013

Tentangan Para Guru terhadap Kurikulum 2013

0 comments

Kurikulum 2013 yang sedianya akan diterapkan per tahun ajaran baru 2013/2014 ternyata masih banyak mengundang kontroversi, terutama di kalangan pendidik. Retno Lityarti, sekjen FGSI  (Federeasi Guru Seluruh Indonesia), sebagaimana diliput oleh okezone.com pada Ahad (28/4) menyebutkan bahwa kurikulum ini secara teoritis  dan praktis tidak dapat dipertanggungjawabkan dan lebih merupakan pesanan Wapres Boediono yang memang tidak memiliki basis keilmuan di bidang kependidikan. Ditambahkan lagi oleh Retno bahwa kurikulum 2013 memiliki kecenderungan untuk menggeser Indonesia ke arah neoliberalisasi.

Sekitar dua pekan sebelumnya (12/4), sebagaimana yang dilansir kompas.com, Slamet Marwanto, perwakilan dari Forum Musyawarah Guru Jakarta, bersama beberapa rekannya mendatangi Istana Negara dengan mengendarai sepeda onthel. Kedatangan mereka tidak lain untuk menolak kurikulum 2013 karena dinilai tidak sesuai dengan filsafat pendidikan. Surat tanda keberatan kemudian dititipkan kepada presiden SBY melalui tata usaha istana kepresidenan.

Lebih jauh, inilah beberapa organisasi yang menyatakan keberatan / penolakannya terhadap pemberlakuan Kurikulum 2013 dengan berbagai alasan: Ikatan Guru Indonesia, Federasi Serikat Guru Indonesia, Federasi Guru Independen Indonesia, Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Aliansi Revolusi Pendidikan, hingga Koalisi Tolak Kurikulum 2013 dan juga bahkan komunitas berbasis agama yaitu komunitas Kristen dan Katolik.

Namun begitu, Mendikbud M. Nuh saat diwawancarai Kompas.com (12/4) menyatakan bahwa Kurikulum 2013 tetap akan dilaksanakan tahun ini dan tidak ada pengunduran waktu. Dirinya pun sudah melakukan pemaparan kepada dan Wapres Boediono serta mendapatkan tanggapan positif. [AP/Kompas/Okezone]

Friday, April 26, 2013

Ustadz Gaul, Remaja Alay, dan Dakwah

0 comments

Kemarin, Jum'at 26 April 2013, kaum muslimin di Indonesia dikagetkan dengan kabar wafatnya alm. Ustadz Jeffry al-Buchory. Da'i muda ini--baru berusia 40 tahun ketika malaikat maut menjemput--wafat dengan meninggalkan seorang isteri, tiga orang anak, dan begitu banyak kenangan baik di mata umat Islam. Uje, demikian almarhum biasa disapa, merupakan seorang da'i yang mengkhususkan diri berda'wah di kalangan anak muda. Beliau pun termasuk kategori ustadz yang dikenal sebagai "Ustadz Gaul".

Wafatnya Uje mengundang reaksi hebat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya (internet). Di media sosial macam facebook dan twitter, begitu banyak ucapan belasungkawa, mulai dari aparat negara hingga kawula biasa. Pada satu titik, tag pagar (hashtag) #Uje sempat menjadi trending topic di twitter.

Mengingat objek dakwah Uje sebagian besarnya adalah remaja dan anak muda, penulis ingin mengajak para pembaca sama-sama memikirkan beberapa hal ini dengan seksama. Di bawah ini adalah screenshot dari sebuah halaman dakwah di Facebook, terkait berita wafatnya Uje:
Yang ingin penulis soroti bahwa ternyata ada kecenderungan di kalangan anak muda kita untuk meng-alay-kan semua kata-kata. Adanya perubahan kata "semangat" menjadi "Cmunguddh" atau "ya" menjadi "ea" saja sebetulnya sudah cukup mengganggu. Apalah lagi merubah seruan "Ya Allah!" menjadi "Yowwoh". Betul, bahwa di masa remaja kita--seperti kata Raditya Dika--kita semua pasti pernah "alay", melakukan hal-hal tertentu supaya dianggap keren, padahal aslinya norak. Namun, itu semua ada batasnya. 

Contoh keinginan dianggap eksis yang melampaui batas kepatutan juga ditunjukkan oleh para siswi sebuah SMU di Toli-Toli yang melakukan tarian a la "Harlem Shake" dan digabung dengan gerakan shalat. Mereka, saat melakukannya bisa jadi hanya berniat eksis, menjadi lain dari yang lain, namun mereka tidak berpikir lebih jauh akan akibat yang muncul karena perbuatan mereka. 

Dua contoh di atas agaknya cukup untuk membuktikan, saatnya dakwah kembali melirik dan merangkul anak muda dan remaja. Biar bagaimanapun, merekalah wajah bangsa ini di masa depan. Semoga, ke depan, kita bisa sama-sama melihat anak-anak muda yang memenuhi shaf-shaf pertama shalat berjamaah di masjid-masjid. Amiin. Mari, lanjutkan perjuangan Uje. [AP/SmartStudents]

Tuesday, April 23, 2013

Selayang Pandang Kurikulum 2013

0 comments

Kurikulum 2013 yang sedianya akan diterapkan mulai tahun ajaran baru mendatang, yaitu 2013/2014 masih banyak menimbulkan pro dan kontra, baik di kalangan masyarakat umum, juga kalangan pendidik dan terlebih lagi siswa. Memang secara kasat mata, ada beberapa hal yang berubah secara drastis dalam kurikulum 2013 dibandingkan pendahulunya, antara lain:

  • Dihapuskannya mata pelajaran Bahasa Inggris dan Komputer di tingkat SD
  • Adanya muatan lokal berupa Prakarya dan Kewirausahaan di tingkat SMA-MA
Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa menyimak dan mengunduh sendiri dokumen terkait di tautan berikut ini:

Cintai Anakmu untuk Selamanya

0 comments


Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi... Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita. Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini....

Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta. Orangtua dan anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Adakah itu termasuk kita? Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala.

Inilah hari ketika kita tak dapat membela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat? Dan dunia ini adalah ladangnya...

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati. Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa 'Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding. Tapi Allah Ta'ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.

Allah Ta'ala berfirman:


"والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين"

"Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini? Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi. Termasuk kitakah?

Adakah kita benar-benar mencintai anak kita? Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat? Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Tapi adakah kita berlaku sama untuk "masa depan" mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Tengoklah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?

Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?

Maka, cintai anakmu untuk selamanya! Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta'ala. Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang. Masa yang tak bertepi.

Penulis: Ust. Mohammad Fauzil Adhim