Tuesday, April 16, 2013

Ujian Nasional? Siap Berhasil, (Harus) Siap Gagal Juga

0 comments

Ujian Nasional atau yang juga dikenal sebagai UN, awalnya diniatkan sebagai alat evaluasi pendidikan di Indonesia. Namun, sudah jadi rahasia umum bahwa UN membawa beban psikologis yang amat besar bagi para guru, orang tua, dan terutama siswa kelas ujung (kelas 6, 9, dan 12). Bagaimana tidak? Proses belajar-mengajar yang ditempuh selama bertahun-tahun, ditentukan hasilnya oleh tes beberapa hari saja.

Untuk mengurangi beban psikologis ini, banyak sekolah yang kemudian mengadakan training motivasi. Seperti pada umumnya training motivasi, biasanya para trainer tersebut akan menanamkan kepercayaan diri yang tinggi pada anak-anak yang akan "bertarung" di medan laga UN. Contoh simulasi yang biasanya diterapkan dalam training tersebut adalah si trainer akan memanggil ke depan seorang peserta, lalu menyediakan sebatang pensil. Si siswa akan diminta mematahkan pensil tersebut ala karate chop, namun dengan satu jari saja. Jika si anak memiliki kepercayaan diri yang tinggi, jumlah gaya, dan posisi jari yang tepat, maka pensil tersebut akan patah!

Yang kemudian patut digarisbawahi adalah jika kepercayaan diri itu kemudian berbalik menjadi bentuk takabur. Maksud penulis dengan takabur di sini adalah, pada sebagian orang, ketika mereka siap untuk berhasil, mereka juga lupa bahwa di saat yang sama mereka punya risiko gagal pula. Ini bukan masalah pro dan kontra terhadap training motivasi, tidak seperti itu. Penulis sendiri punya tim yang memang salah satu bidang kerjanya adalah training motivasi. Ini adalah perkara realistis. Karena dalam lingkup apapun, selalu ada peluang gagal. Kalau tidak karena kelalaian kita sendiri, bisa jadi ada faktor-faktor di luar kehendak dan kuasa kita. Sewaktu hendak menempuh UN dahulu, penulis pernah dinasihati--meskipun dengan nada seolah bercanda--oleh salah seorang guru penulis mengenai hal ini, "Mana kita tahu kan... Bisa saja setelah kita kumpulkan kemudian LJK (Lembar Jawaban Komputer) kita tanpa sengaja ketumpahan kopi di ruang guru? Hehehe..."

Maka, siapkanlah ruang hati kita untuk menerima kegagalan. Syukur-syukur kegagalan itu memang tak harus kita alami. Penulis tidak mengajak para pembaca artikel ini untuk kemudian menjadi pesimis, bukan itu. Ini kenyataannya. Bicara mengenai kegagalan, Anda bisa menjelajah internet tentang kegagalan-kegagalan apa yang harus ditempuh seorang Abraham Lincoln (bukan Abraham Samad lho ya...) sebelum menjadi presiden Amerika Serikat. Rumus siap gagal ini pun dipahami dalam-dalam oleh orang-orang tersukses di dunia ini, salah satunya mendiang Steve Jobs. Siap gagal ini bukan berarti kemudian pasrah tanpa belajar dan usaha, sesungguhnya bukan seperti itu maksud penulis.


Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)


Kalau gagal, jangan berandai-andai. Yakinlah ada kebaikan yang disimpan Allah untuk kita nikmati kelak. Dengan cara, dan di waktu yang lebih baik, Insya Allah. [AP/SmartStudents]



Saturday, March 30, 2013

Menyalahkan yang (Memang) Salah

0 comments

Sepekan lalu, dalam perjalanan pulang dari Sumedang, di samping mobil yang saya tumpangi bersama kawan-kawan saya melintaslah seorang pria berambut panjang dicat dengan bahasa tubuh kemayu. Ia adalah tipikal orang yang sehari-hari kita sebut sebagai bencong alias banci. Melihat hal itu, seorang kawan saya berkomentar spontan,

"Wah, ada mas-mas salon!"

Saya yang mendengar celetukannya, merasa heran dengan istilah yang ia lontarkan dan lalu spontan juga berkomentar kepadanya,

"Baru denger tuh istilah mas-mas salon, hehehe...."

Kawan saya lalu menjelaskan panjang lebar, sejauh yang ia pahami ketika kita berinteraksi dengan orang-orang yang melenceng dari fitrahnya macam itu dan juga berbicara tentang mereka kita harus tetap meletakkan persoalan pada tempatnya. Banci biar bagaimanapun tetaplah lelaki yang memaksakan diri berpakaian layaknya wanita. Lesbian pun, entah bagaimana maskulinnya tetaplah wanita yang kehilangan kodratnya. That's the plain truth. Jadi misalnya, kalau ada banci mengamen di depan rumah kita, tetaplah membahasakan diri mereka sebagai "Mas", bukan "Mbak". Sebab secara tidak langsung, ketika kita menggunakan kata sapaan "Mbak" untuk mereka, berarti kita telah memberikan toleransi atas pelanggaran mereka terhadap hukum Allah.


Dalam hadits marfu’ riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma disebutkan,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.”( Hadits riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 10/332.)

Dalam hadits lain Ibnu Abbas juga meriwayatkan,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الْمُتَخَنِّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki”( Hadts riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 10/33333)

Selanjutnya, kawan saya itu menjelaskan dengan mengambil contoh kasus isteri Nabi Luth. Sesungguhnya isteri beliau tidaklah termasuk golongan penyuka sesama jenis, namun ia (si isteri) menoleransi dan ridha atas kerusakan yang dilakukan kaumnya. Ketika para malaikat utusan Allah datang ke rumah Nabi Luth dalam wujud pemuda-pemuda tampan, sang suami dengan sekuat tenaga merahasiakannya, karena khawatir akan gangguan para homoseksual tersebut kepada tamu-tamunya. Tiada yang tahu kecuali sang nabi dan keluarganya. Sang isteri malah membocorkan hal itu pada para tetangganya yang durhaka, “Sesungguhnya di rumah Luth ada beberapa anak muda tampan, yang tidak pernah aku lihat orang yang wajahnya setampan mereka.”

Seperti yang kita sudah sama-sama tahu, sang isteri kemudian termasuk dari orang-orang yang diadzab dan dibinasakan Allah. Bukan karena ia pelaku maksiat, tapi karena ia membiarkan dan bertoleransi terhadapnya. Dahsyat bukan?

Pelajarannya yang saya dapat sore itu amat jelas. Ketika sesuatu salah, bilanglah bahwa ia salah. Tak usah ragu hanya karena manusia. Kalau ada yang bilang,

 "Apa hak kita menghakimi mereka ? Tuhan yang bisa menentukan manusia itu salah atau nggak, bukan lu!"

Maka jawablah, seperti ini, dengan tentunya menunjukkan dalilnya dari Al-Qur'an dan Sunnah:

"Tuhan sendiri dan nabi-Nya yang bilang kalau itu salah. Ini buktinya. Lihat sendiri. Kalau elu siapa, kok bilang mereka gak salah, padahal Allah dan rasul-Nya saja bilang salah?"

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tibaa'ah, wa arinal-baatila baatilan warzuqnaj-tinaabah. 

Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang baik itu baik, dan anugerahi kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang salah itu salah, dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya. [AP/SmartStudents]

Thursday, March 28, 2013

Mandiri Semenjak Dini

0 comments

Anak muda itu, Muhammad ibnu 'Abdullah namanya. Semenjak muda, nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam sudah menggembala kambing dengan upah beberapa dinar. Di umur 25 tahun, beliau yang sudah mendapat nama baik sebagai seorang yang terpercaya di kota Makkah, membawa barang dagangan milik Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar wanita terkemuka untuk diniagakan di Syam. Di usia 12 tahun, bersama pamannya, sang pemuda terpuji itu juga telah diajak sebelumnya oleh pamannya tercinta, Abu Thalib, berniaga ke tempat yang sama.

Sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya begitu banyak diwarnai dengan semangat untuk mandiri secara ekonomi. Beberapa kalimat dari paragraf sebelumnya sudah menjadi bukti, dari Rasulullah pribadi. Semangat mandiri itu juga yang ditunjukkan 'Abdurrahman ibn 'Auf ketika berhijrah. 'Abdurrahman, yang meninggalkan seluruh asetnya di Makkah dipersaudarakan oleh sang nabi dengan Sa'ad ibn Rabi. Tergerak untuk membantu saudara seimannya, Sa'ad menawarkan untuk membagi separuh aset kekayaannya kepada 'Abdurrahman. Lebih jauh, Sa'ad bahkan menawarkan untuk menceraikan salah seorang isterinya untuk kemudian dijodohkan dengan 'Abdurrahman. Perhatikan jawaban mengagumkan ibnu 'Auf, “Semoga Allah memberkahi hartamu dan keluargamu, aku tidak memerlukan semua itu. Akan tetapi, tunjukkanlah aku dimana pasar supaya aku dapat berdagang disitu”. Inilah jawaban orang yang terdidik oleh nabi dengan semangat kemandirian dan iffah (menjaga harga diri). Sa'ad melakukan apa yang diminta saudaranya, dan selang beberapa waktu saudaranya itu telah menjelma menjadi saudagar kaya yang menguasai pasar Madinah dan bahkan mampu menikah dengan memberi mahar berupa butir emas seberat biji kurma pada isterinya.

Pertanyaannya saat ini, apakah generasi belia muslim saat ini juga diwarisi semangat yang sama oleh orang tua dan para pendidiknya? Jawabannya, bisa ya, bisa juga tidak. Sebagian dari Anda, Bapak dan Ibu pembaca yang baik, mungkin mengingat pengalaman di masa kecil bersentuhan dengan  usaha dan uang. Yang laki-laki misalnya, kelereng hasil koleksi dan mengalahkan lawan kemudian dijual untuk menambah biaya beli sepeda idaman. Atau yang tinggal di pedesaan, mencari bekicot untuk dijual sebagai pakan itik. Anda yang perempuan mungkin ada yang membuat dan menitipkan pisang goreng di warung tetangga. 
Ada sebagian orang tua yang berusaha menduplikasi pengalaman itu, meski dengan nada yang berbeda. Misalnya, ketika sekolah mengadakan Market Day atau Hari Pasar, mereka mendorong anak-anaknya menjual minuman dalam kemasan, suvenir buatan tangan, mainan kesukaan, atau pengganjal perut berupa camilan rumahan. Modalnya? Dari investor dermawan bernama Abi-Ummi, Papi-Mami, atawa Ayah-Bunda :)

Buat sebagian lain dari kita, anak dan interaksi dengan kegiatan mencari uang macam itu mungkin terlihat seperti dua hal yang sebaiknya tidak usah bertemu. "Tidak usahlah anakku capek-capek dan bersusah-susah, cukup aku saja Bapak / Ibu-nya yang mengalami." Atau ada pula orang tua yang berucap seperti ini pada anaknya, "Apa kata tetangga nanti? Dikira mereka Bapak / Ibu sudah nggak mampu lagi nafkahin kamu!"

Bapak dan Ibu, para orangtua dan pendidik yang baik, sesungguhnya ini bukan perkara rupiah atau gengsi semata. Ini perkara membentuk karakter. Bahwa orang tua mereka selalu berusaha mencukupi anak, itu mereka sudah tahu. Namun, seperti yang dibilang Rocky Balboa, "...the world ain't all sunshine and rainbow..." Dunia tak hanya berisi hal-hal yang indah. Kita tak bisa menjamin kecukupan akan berkesinambungan. Maka, inilah salah satu bekalan mereka menempuh pelayaran arungi samudera dunia. Tentu saja, juga lengkapi bekalnya dengan iman, ilmu, dan takwa. [AP/SmartStudents]



Thursday, March 14, 2013

Narrative Text : "Once Upon a Time..."

0 comments

"Once upon a time, there was a beautiful princess..." That kind of sentence can be found easily when we read stories and tales like Cinderella, Rapunzel, or Little Red Riding Hood. It might look a little bit silly right now, but when we were small children, I am sure that you were amused to hear such stories. In our English lesson in junior high school (SMP), a story that is told in order to amuse or to entertain its readers is considered as a narrative text. Legends, myths, and folklores like the legends of Jaka Tarub, Nyi Roro Kidul or Malin Kundang can also categorized into this group.

A narrative text is usually told in past tenses. It might be simple, perfect, or perfect continuous tense. It is similar with recount text, the different is most narrative texts are fictional, while recount texts are based on real life events. 

In this article, we will discuss narrative text using the legend of Malin Kundang as an example. This legend is very famous in Indonesia, the moral of the story is that children must respect their parents no matter how bad their condition is. On the shore of Air Manis, West Sumatra, we can see a rock which is said to be the petrified disrespectful child, Malin Kundang.

A narrative text usually consists of three parts, such as:

Orientation
In this part, the writer tells the reader about characters and settings of the story. It might be quite descriptive like how the characters look, how they interact with people, how the situation of the characters' neighbourhood, in what area it is located, etc. Let see an example we have from the story of Malin Kundang below:

A long time ago, in a small village near the beach in West Sumatra, a woman and her son lived. They were Malin Kundang and her mother. Her mother was a single parent because Malin Kundang's father had passed away when he was a baby. Malin Kundang had to live hard with his mother.
Malin Kundang was a healthy, dilligent, and strong boy. He usually went to sea to catch fish. After getting fish he would bring it to his mother, or sold the caught fish in the town. 

Complication
This part shows the main character starts to find his / her problems or challenges. In other words, this is the part where the story starts to flow. The tension will increase until it reaches a point where the main event of the story, something that we call climax in dramas. For example:

One day, when Malin Kundang was sailing, he saw a merchant's ship which was being raided by a small band of pirates. He helped the merchant. With his brave and power, Malin Kundang defeated the pirates. The merchant was so happy and thanked to him. In return the merchant asked Malin Kundang to sail with him. To get a better life, Malin Kundang agreed. He left his mother alone.

Many years later, Malin Kundang became wealthy. He had a huge ship and was helped by many ship crews loading trading goods. Perfectly he had a beautiful wife too. When he was sailing his trading journey, his ship landed on a beach near a small village. The villagers recognized him. The news ran fast in the town; “Malin Kundang has become rich and now he is here”.

An old woman ran to the beach to meet the new rich merchant. She was Malin Kundang’s mother. She wanted to hug him, released her sadness of being lonely after so long time. Unfortunately, when the mother came, Malin Kundang who was in front of his well dressed wife and his ship crews denied meeting that old lonely woman. For three times her mother begged Malin Kundang and for three times he yelled at her. At last Malin Kundang said to her "Enough, old woman! I have never had a mother like you, a dirty and ugly woman!" After that he ordered his crews to set sail. He would leave the old mother again but in that time she was full of both sadness and angriness.

Finally, enraged, she cursed Malin Kundang that he would turn into a stone if he didn't apologize. Malin Kundang just laughed and really set sail.

Resolution
This is where the problems are solved, either for better or worse. So, it means the story does not have to end happily. This is the example of resolution of Malin Kundang story:

In the quiet sea, suddenly a thunderstorm came. His huge ship was wrecked and it was too late for Malin Kundang to apologize. He was thrown by the wave out of his ship. He fell on a small island. It was really too late for him to avoid his curse. Suddenly, he turned into a stone.

Some writers also add parts like evaluation and reorientation to their narrative texts. Evaluation is the part where the writer evaluates what have happened to the main character. Reorientation is a part after resolution which tells what happens aftermath. However, these two parts (evaluation and reorientation) are additional. OK then, that was a simple explanation about narrative text, I hope it can be helpful for you, fellows. Enjoy! [AP/SmartStudents]

Source of Malin Kundang Story: Click HERE

Monday, March 11, 2013

Procedure Text: "Let's learn how to do it!"

0 comments



In Indonesian junior high schools (SMP), procedure text is something that we will find if we study the subject of English language. Procedure text is basically a text which tells its reader how to do something or how to make something. In our daily life, we can easily find examples of procedure text on food wrappers, recipe books, or manual books of electronic devices. Cooking shows like Farah Quinn's "Ala Chef" or creativity shows like Disney's "Art Attack" actually serve the same objective with this kind of text.

A typical procedure text consists of three parts:

A. Goal
This part tells readers of the objective of the whole text or in the other words, what readers will be able to do after they finish reading it. This part also usually serves as the title.
Example:


  • "How to Make Fried Rice"
  • "Chicken Satay"
  • "Cooking Instructions"
  • "Nokia 3230: Manual Book"
  • etc.


B. Materials
When it comes to materials, it means that we talk about the tools and ingredients needed to fulfill the goal.
For example, if we read a recipe for Indonesian fried rice, we might find these things as the materials:

  • Kitchen Utensils:


* Wok
* Spatula
* Mortar (Indonesian: ulekan / cobek) or blender
* Knife
* Plate
* Cutting board


  • Ingredients:


* Rice
* Vegetable oil / Margarine
* Eggs
* Chili peppers
* Shallots
* Garlic
* Dried shrimp or shrimp paste (Indonesian: terasi )
* Salt
* Sweet soy sauce
* Crackers
* Fresh cucumber and tomato
* Pickles

C. Instructions / Steps
As the name implies, instructions or steps contain chronological order of explanation about particular phases the writer should do. Instructions or steps are usually written with imperative verb, an infinitive form of verb which is used to give order or request to somebody--in this case, the readers.
A recipe for Indonesian fried rice, for example, might contain instructions like these ones:


  1. Grind or blend the spices (shallots, garlics, and chili peppers) together with dried shrimps and salt. Do it over and over until the ingredients turn into paste.
  2. Turn the stove on, put the wok on it.
  3. Wait until the wok absorb enough heat, put the vegetable oil / margarine in.
  4. When the oil temperature is hot enough, put the spice paste in. Let the aroma comes out.
  5. Crack the egg into the wok, and scramble it together with the spice paste.
  6. Put the rice in, and stir well. 
  7. Add some sweet soy sauce, according to your taste. Stir well once again.
  8. Taste it to see whether it already has the right taste or not. Add some extra salt or sweet soy sauce if needed, and stir it.
  9. Stir it thoroughly until approximately seven to ten minutes, to ensure all the seasonings give the perfect taste to the rice. 
  10. Turn off the stove
  11. Put the rice on your plate. Serve it with crackers, slices of cucumber, and pickles. Your tasty Indonesian fried rice is ready to rock your palate! 

Well, I guess that is all. We have discussed about the procedure text, its definition, generic structures, and grammatical features. I hope it will be useful for you. See you again next time, fellows! :)

Exercise:
Browse YouTube with your browser, and find a video clip from a cooking show or any other tutorial video. Watch it thoroughly, and make a procedure text based on that video. Have fun!

[AP/SmartStudents]




Monday, February 25, 2013

Pesawat Sederhana

0 comments
Pesawat sederhana adalah salah satu bahasan dalam pelajaran IPA SD. Pesawat sederhana adalah alat-alat sederhana yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Ada beberapa macam pesawat sederhana yang akan kita bahas kali ini, yaitu tuas, bidang miring, katrol, dan roda berporos. Beberapa jenis pesawat sederhana bisa digabungkan menjadi alat yang lebih kompleks yang dikenal sebagai pesawat rumit. Contoh pesawat rumit dalam kehidupan kita sehari-hari misalnya sepeda, sepeda motor, mobil, dll. Baiklah, mari kita bahas semuanya...

Tuas

Tuas juga kita kenal sebagai pengungkit. Setiap tuas memiliki tiga titik penting. Titik tumpu, tempat bertumpunya suatu gaya. Titik kuasa adalah gaya yang bekerja pada suatu benda. Sedangkan titik beban adalah titik tempat terletaknya berat benda. Berdasarkan letak ketiganya, tuas bisa dibedakan menjadi tiga jenis:


  • Tuas Jenis Pertama : Adalah tuas yang memiliki titik tumpu di tengah. Contoh dari tuas jenis pertama adalah jungkat-jungkit (mainan di TK) dan gunting.
  • Tuas Jenis Kedua : Adalah jenis tuas yang memiliki titik beban di tengah. Contoh dari tuas jenis kedua ini adalah alat pemecah kacang, gerobak roda satu, dan alat pemotong kertas.
  • Tuas Jenis Ketiga : Adalah jenis tuas yang memiliki titik kuasa di tengah. Contohnya adalah sekop.

Bidang Miring



Bidang miring menggunakan kemiringan untuk membantu manusia. Contoh paling sederhana dalam penggunaan bidang miring adalah jalan yang berkelok-kelok di daerah pegunungan, misal di daerah Puncak. Jawa Barat. Mengapa harus miring? Supaya gaya yang dikeluarkan untuk mengangkat beban bisa terasa lebih ringan. Kalau harus mendaki langsung daerah pegunungan pasti gaya yang harus dikeluarkan jadi jauh lebih besar, dan terasa lebih melelahkan. Kelemahan dari prinsip bidang miring ini adalah menjadikan jarak tempuhnya jadi lebih jauh, dan waktu tempuhnya semakin lama.



Prinsip bidang miring juga digunakan pada alat-alat bantu manusia yang berupa benda tajam seperti kapak. pisau, golok, baji, dan sebagainya. Sekrup juga merupakan penggunaan bidang miring dalam kehidupan manusia. Kalau kamu perhatikan, alur pada sekrup juga menyerupai jalan melingkar di daerah pegunungan, bukan?


Katrol

Pesawat sederhana yang akan kita bahas selanjutnya adalah katrol. Pada prinsipnya, katrol adalah roda dengan jalur pada pinggirannya yang dihubungkan dengan tali yang berfungsi mengubah arah gaya. Fungsi katrol juga digunakan untuk meringankan beban. Katrol dibagi menjadi beberapa jenis:




  • Katrol tetap : Katrol yang tetap dan tidak berpindah-pindah, hanya ada di satu titik. Contoh dari katrol jenis ini adalah katrol pada sumur dan tiang bendera.
  • Katrol bebas : Katrol yang berpindah-pindah mengikuti bebannya. 
  • Katrol majemuk : Katrol yang merupakan penggabungan dari katrol tetap dan katrol bebas. Contoh dari katrol jenis ini adalah katrol yang digunakan pada peti kemas di pelabuhan.

Roda berporos


Roda berporos banyak digunakan dalam kendaraan-kendaraan, baik yang bermesin maupun tidak. Sepeda, becak, sepeda motor, mobil. truk, semua menggunakan prinsip roda berporos.

Nah, adik-adik pengunjung blog LPP Smart Students yang baik, demikianlah pembahasan singkat kita mengenai pesawat sederhana. Semoga bisa bermanfaat :) [AP/SmartStudents]



Tuesday, February 12, 2013

"Rudy Habibie dan Rudy Chaerudin, Sukses Mana?"

0 comments



Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk ke jurusan Bahasa.

Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling tinggi justru ke jurusan Bahasa.

Sewaktu saya diskusi dengan (mendiang) Romo Mangun Wijaya tentang kurikulum sekolah, beliau mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih mewarisi "budaya" kolonial Belanda.

Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya diarahkan
untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang akan lahir ekonom, hakim, jaksa,
pengacara, polisi, diplomat, duta besar, politisi dsb yang hebat2.
Tetapi rupanya hal itu tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial politik.Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli komputer, ahli matematika, dokter, dsb yang asyik dengan sains di laboratorium (pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa).

Saya nggak tahu persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi patah semangat karena kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah.

Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin parlemen, kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P & K atau tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai saat ini,masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol.Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep anak tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja mengadakan seminar anak-anak.

Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.
- Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat dan bisa menjadi presiden.
- Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa kali menjadi juara bulu tangkis kelas dunia.
- Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
- Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan dan punya banyak salon kecantikan di beberapa kota.
- Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu acara memasak di TV.

Sewaktu Kak Seto bertanya "Rudy yang mana yang paling sukses menurut kalian?" Hampir semua anak menjawab "Rudy Habibie" Sewaktu ditanyakan
"Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?"

Anak-anakpun menjawab "Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi presiden, dsb" Sewaktu Kak Seto menanyakan "Rudy yang mana yang paling tidak sukses?" Hampir seluruh anak menjawab "Rudy Choirudin" Ketika ditanyakan "Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang yang sukses?"

Anak-anakpun menjawab "Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak"

Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan "enjoy".

Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya.Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan. Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir anak-anak (dan juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.

Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai kesuksesan
di "bidangnya". Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, anak2 tidak perlu
minder dan orang tua tidak perlu malu atau menekan anak.Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar daripada pelajaran-pelajaran lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru anak-anak yang punya imajinasi tinggilah yang pintar menggambar/ melukis. Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi politisi atau negotiator yang baik.

Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat. Mbak Dwi Setyani juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada kekuatan kita dari pada "wasting time" bersungut-sungut, hanya memikirkan kelemahan kita.

Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika. Penyanyi tersebut dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya supaya giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa menghasilkan suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang tonggos itu bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi dengan bebas dan meng-eksplore suara emasnya.Ternyata orang-orang mengingat penyanyi itu karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.

Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia) dengan maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.

SUMBER